Selasa, 11 Juni 2013

Kapal Induk


Dari Atas ke Bawah: Principe de Asturia, USS Wasp, USS Forrestal dan HMS Invincible, menunjukkan perbedaan ukuran. (Foto: Wikipedia)

Sebuah aircraft carrier (kapal induk) adalah sebuah kapal perang yang didesain terutama untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawat, berfungsi sebagai pangkalan udara terapung di lautan. Kapal induk memungkinkan angkatan laut untuk meluncurkan kekuatan udaranya ke seluruh dunia tanpa harus tergantung pada pangkalan udara lokal. Mereka berevolusi dari kapal kayu yang digunakan untuk meluncurkan balon udara, menjadi kapal perang bertenaga nuklir yang dapat mengangkut lusinan pesawat bersayap tetap dan helikopter.

Kapal induk pada umumnya merupakan kapal kapital dari armada, dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pembuatannya dan sangat penting untuk dilindungi. Dari sepuluh negara yang memiliki kapal induk, delapan di antaranya hanya memiliki satu, bahkan pada beberapa negara, kapal induknya tidak lagi memiliki kemampuan pengangkutan pesawat atau mengalih-fungsikannya. Dua puluh kapal induk saat ini beroperasi, sepuluh di antaranya adalah milik AL AS pada Februari 2013.



SEJARAH 

Penemuan pesawat pada 1903 langsung diikuti dengan percobaan peluncuran pesawat dari dek kapal milik AL AS (USS Birmingham) pada 1910, dan pendaratan eksperimental pertama dilakukan pada 1911. and the first experimental landings were conducted in 1911. Pada 4 Mei 1912, pesawat pertama lepas landas dari kapal AL Royal Inggris, HMS Hibernia. Kapal pendukung seaplane tender ditemukan kemudian.

IJN Wakamiya (foto: wikipedia)
Pada September 1914, AL Imperial Jepang Wakamiya berhasil melakukan penyerangan udara pertama di dunia yang diluncurkan dari kapal melawan pasukan Jerman selama PD I. Kapal Jepang membawa empat kapal amfibi Maurice Farman, yang lepas landas dan mendarat di air dan dinaik/turunkan dari kapal menggunakan derek. Pada 6 September 1914, sebuah pesawat Farman yang diluncurkan dari Wakamiya menyerang cruiser milik Austro-Hungaria “Kaiserin” dan gunboat milik Jerman “Jaguar” di Qiaozhou Bay. 

Pengembangan kapal beratap datar menghasilkan kapal armada besar pertama di dunia. Pada 1918, HMS Argus, menjadi kapal pertama yang dapat menerbangkan dan mendaratkan pesawat. Evolusi kapal induk terus berjalan dengan baik pada pertengahan 1920an, meluncurkan kapal induk seperti Hōshō (1922),HMS Hermes (1924), dan Béarn (1927). Kebanyakan kapal induk pertama merupakan konversi dari tipe kapal berbeda seperti kapal kargo, cruisser, battlecruiser atau battleship. Washington Naval Treaty pada 1922, mempengaruhi rencana pengembangan kapal induk. AS dan Inggris masing-masing diijinkan untuk membangun kapal perang dengan total berat 135.000, sementara pengecualian untuk kapal yang memiliki berat individual di atas ketentuan, diperbolehkan untuk dikonversi menjadi kapal jenis lain yang kurang agresif seperti kapal induk, Kapal induk kelas Lexington (1927) adalah hasilnya.

Foto: http://wwiiguide.webs.com
Selama 1920an, beberapa AL mulai memesan dan membangun kapal induk yang memang didesain secara khusus dari awal (bukan konversi). Hal ini memungkinkan spesifikasi desain pada peran kapal induk di masa depan sehingga menghasilkan kapal yang superior. Selama PD II, kapal-kapal ini menjadi tulang punggung kekuratan AL AS, Inggris dan Jepang, dikenal sebagai kapal induk armada. 

Kapal induk digunakan secara luas selama PD II, dan beberapa tipe diciptakan sebagai hasilnya. Kapal induk escort, seperti USS Bogue, yang dibuat hanya pada masa PD II. Walaupun beberapa memang didesain dari awal, sebagian besar merupakan konversi dari kapal dagang, untuk menyediakan support udara bagi konvoi dan penyerangan amfibi. Kapal induk ringan yang dibangun oleh AS, seperti USS Independece, merupakan versi lebih besar dan lebih “militer” dari konsep kapal induk escort. Walaupun kapasitas angkut pesawatnya sama dengan kapal induk escort, kapal induk ringan memiliki kelebihan dari segi kecepatan karena kapal induk jenis ini merupakan konversi dari cruiser. Desain kapal induk armada kecil milik Inggris (1942) yang bertugas untuk AL Royal Inggris, menjadi desain hull kapal induk yang dipilih oleh hampir semua AL setelah perang hingga 1980.

Darurat masa perang juga memacu kreasi atau konversi kapal induk non-konvensional. CAM (Catapult Aircraft Ship) seperti SS Michael E, merupakan kapal kargo-dagang yang dapat meluncurkan pesawat menggunakan ketapel, tetapi tidak dapat mendaratkan pesawat kembali. Selain itu, merchant aircraft carrier (MAC), seperti MV Empire MacAlpine; kapal selam induk, seperti Surcouf milik Perancis dan I-400 milik Jepang pada umumnya tidak sukses saat perang.

AL modern yang mengoperasikan kapal induk, menjadikannya sebagai kapal kapital dari armada, peran yang sebelumnya dimainkan oleh battleship. Perubahan ini terjadi selama PD II sebagai respon dari kekuatan udara yang menjadi faktor penting dalam peperanganPerubahan ini didorong oleh jarak yang superior, fleksibilitas dan efektivitas pesawat yang dilincurkan dari kapal induk. Setelah perang, operasi kapal induk terus meningkat dalam ukuran maupun tingkat kepentingannya. Supercarrier, dengan bobot mati 75.000 ton atau lebih, menjadi puncak pengembangan kapal induk. Beberapa di antaranya bertenaga reaktor nuklir dan membentuk inti armada yang didesain untuk beroperasi jau dari negara asal.

Amphibious assault ship, seperti USS Tarawa dan HMS Ocean, berperan untuk mengangkut dan mendaratkan marinir, dan mengoperasikan sejumlah besar helikopter untuk tugas itu. Kapal jenis ini juga dikenal sebagai “kapal induk komando” atau “kapal induk helikopter”, kebanyakan mempunyai kemampuan sekunder untuk mengoperasikan pesawat V/STOL.

Mempunyai persenjataan yang relatif kurang dibandingkan kapal perang lain, nembuat kapal induk sangat rentan untuk diserang oleh kapal lain, pesawat, kapal selam atau misil. Oleh karena itu, kapal induk umumnya dikawal oleh sejumlah kapal lain untuk melindungi, mengangkut kebutuhan dan memberikan kemampuan serang tambahan. Kapal induk dan pengawalnua ini kadang disebut sebagai battle group atau carrier grup, bahkan kadang disebut sebagai carrier battle grup.

Sebelum PD II, perjanjian AL internasional 1922, 1930 dan 1936, membatasi ukuran kapal kapital termasuk kapal induk. Desain kapal induk setelah PD II, secara efektif tidak dibatasi, dan ukuran kapal menjadi semakin besar sebagai konsekuensi dari meningkatnya ukuran dan berat pesawat militer. Kapal induk AS kelas Nimitz, memiliki ukuran empat kali lebih besar dibandingkan kapal era PD II, USS Enterprise.


Arti Penting Kapal Induk di Masa Modern

Saat ini, kapal induk sangatlah mahal sehingga menjadi resiko besar secara politik, ekonomi dan militer bagi operatornya jika kehilangan atau digunakan dalam konflik. Para pengamat beropini bahwa sistem senjata anti-kapal modern seperti torpedo dan misil, membuat kapal induk menjadi obsolete/kuno karena sangat rentan untuk pertempuran modern. Senjata nuklir akan mengancam keseluruhan carrier group pada pertempuran terbuka. Di lain pihak, peran kapal induk tak dapat disangkal sangat berpengaruh pada peperangan asimetris, seperti gunboat di masa lalu. Lagipula, kapal induk memfasilitasi operasi kekuatan militer besar secara cepat dan presisi pada konflik lokal maupun regional.

Laksamana Sir Mark Stanhope, kepala AL Royal Inggris, menyatakan “Sederhananya, negara yang menginginkan pengaruh strategis internasional, memiliki kapal induk”.



JENIS KAPAL INDUK 


Dari Segi Peran

Sebuah kapal induk armada dimaksudkan untuk beroperasi dengan armada utama dan biasanya memberikan kemampuan ofensif. Mereka adalah kapal induk terbesar yang berkecepatan tinggi. Sebagai perbandingan, escort carrier didesain untuk melindungi kapal konvoi. Mereka lebih kecil dan lambat, dengan lebih sedikit pesawat yang dapat mereka angkut. Kapal induk ringan merupakan kapal induk yang cukup cepat untuk berperasi bersama armada, tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dan kapasitas pesawat yang lebih sedikit. Kapal induk Soviet, yang saat ini dioperasikan oleh Rusia, sebenarnya merupakan aviation cruisers, yang memiliki ukuran dalam kisaran kapal induk armada besar, didesain untuk beroperasi sendirian atau dengan pengawal. Kapal induk Soviet memiliki persenjataan pertahanan yang kuat dan misil yang sangat ofensif, setara dengan cruiser misil berpemandu, sebagai tambahan dari pesawat dan helikopter yang dibawanya.


Anti-Submarine Warfare Carrier

Sebuah kapal induk anti-kapal selam (ASW carrier) adalah kapal induk kecil yang memiliki peran utama untuk memburu dan menghancurkan kapal selam. Kapal induk jenis ini mulai muncul pada pasa perang dingin sebagai pengembangan dari kapal induk escort yang pernah berperan sebagai ASW selama PD II. Contoh kapal induk ASW adalah ARA Independencia, NAel Minas Gerias, Arromanches, Giuseppe Garibaldi, Hyuga,Prncipe de Asturias, HMS Bulwark, HMS Hermes, Invincible, HMAS Melbourne, HMCS Bonaventure, HNLMS Karel Doorman, Moskva, Kiev, Essex, dan Wasp.


Helicopter Carrier

Kapal induk helikopter adalah kapal induk yang utamanya berperan untuk mengoperasikan helikopter. Kapal induk helikopter digunakan sebagai kapal induk ASW dan amphibious assault ship.

Kapal induk helikopter dapat memiliki sebuah full-length aircraft deck seperti HMS Ocean, atau dek helikopter besar, biasanya di bagian belakang kapal seperti pada kapal induk kelas Moskva atau RFA Argus. Sebuah full-length deck memaksimalkan ruang dek untuk titik pendaratan helikopter. Desain semacam ini juga memungkinkan untuk digunakan sebagai dek hangar.

Kapal induk helikopter “murni” sulit untuk didefinisikan pada abad ke-21. Hadirnya pesawat STOVL seperti Harrier membuat rumit klasifikasi; Kapal Induk Kelas Wasp milik AL AS, misalnya, membawa enam hingga delapan Harrier, dan juga 30 Helikopter. Hanya kapal induk yang lebih kecil yang tidak dapat mengoperasikan pesawat Harrier dan kapal induk sebelum era-Harrier yang dapat dikatakan sebagai kapal induk helikopter yang sebenarnya. Dalam banyak kasus, kapal induk lain, yang dapat mengoperasikan pesawat STOVL, diklasifikasikan sebagai "light aircraft carriers". Kapal lain, seperti kelas Wasp, juga dapat mengangkut pasukan seperti marinir dan mendaraka mereka di pantai, biasanya diklasifikasikan sebagai amphibious assault ships.


Light Aircraft Carrier

Kapal induk kecil adalah sebuah kapal induk yang lebih kecil dari pada standar kapal induk AL. Definisi tepat dari tipe ini beragam pada berbagai negara. Kapal induk kecil biasanya hanya dapat mengangkut setengah atau dua per tiga dari kapal induk armada. Kapal induk kecil memiliki konsep yang mirip dengan kapal induk escort, akan tetapi memiliki kecepatan yang lebih tinggi untuk dioperasikan bersama kapal induk armada, sementara kapal induk escort biasanya melindungi konvoi dan memberikan dukungan udara pada operasi amfibi.

Kapal induk yang dapat dimasukkan dalam kategori ini di antaranya Giuseppe Garibaldi, Cavour, Juan Carlos I, INS Viraat, HTMS Chakri Naruebet, dan HMS Illustrious.


Amphibious Assault Ship

Sebuah amphibious assault ship (atau disebut juga dengan kapal induk komando atau amphibious assault carrier) adalah sebuah tipe dari amphibious warfare ship yang digunakan untuk mendaratkan dan mendukung pasukan darat di teritorial musuh dengan serangan amfibi. Desainnya merupakan evolusi dari kapal induk yang dikonversi sebagai kapal induk helikopter, tetapi juga untuk mendukung operasi pendaratan amfibi.

Peran the amphibious assault ship pada dasarnya berbeda dengan kapal induk standar: fasilitas aviasinya memiliki peran utama dalam pengoperasian helikopter untuk mendukung pasukan di pantai dari pada untuk pesawat (bersayap tetap). Akan tetapi beberapa mampu berperan untuk “sea-control”, meluncurkan pesawat seperti Harrier untuk CAP dan helikopter anti kapal selam, atau beroprasi sebagai pangkalan aman untuk pesawat tempur STOVL. Kebanyakan kapal jenis ini juga dapat membawa atau mendukung support landing craft, seperti hovercraft atau LCU (Landing Caft Utility).

Armada terbesar dari tipe ini dioperasikan oleh AL AS, termasuk kapal kelas Tarawa, dan yang lebih besar kelas Wasp. Amphibious assault ships juga dioperasikan oleh AL Royal Inggris, AL Perancis, AL Italia, AL Republik Korea dan AL Spanyol.

Walaupun istilah amphibious assault ship kadang tertukar dengan istilah yang lebih umum amphibious warfare ship, istilah umum ini digunakan hanya pada kapal amfibi ber-dek besar seperti tipe LPH, LHA, dan LHD. Istilah ini tidak memasukkan amphibious transport dock (LPD), dan dock landing ship (LSD).


Seaplane Tender dan Seaplane Carriers

Seaplane tender (atau seaplane carrier) adalah kapal yang menyediakan fasilitas untuk pengoperasian seaplane (pesawat amfibi). Kapal ini adalah kapal induk pertama dan muncul tepat sebelum PD I.


Balloon Carrier dan Balloon Tenders

Kalloon carrier atau balloon tender merupakan kapal yang dilengkapi dengan sebuah balon, biasanya diikat dengan tali atau kabel, dan digunakan untuk observasi. Selama pertengahan kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, kapal ini dibuat untuk menghasilkan jarak pandang terjauh di perairan sekeliling kapal. Setelah sejumlah eksperimen, kapal jenis ini resmi digunakan pada awal 1900an, tetapi kemudian dengan cepat ketinggalan jaman dengan adanya pengembangan seaplane carriers dan kapal induk reguler di awal PD I.



Harrier bersiap untuk lepas landas dari kapal induk tipe CATOBAR  USS Roosevelt (Foto: wikipedia)

Dari Segi Konfigurasi

Terdapat tiga konfigurasi utama dari operasi kapal induk di dunia AL, dibagi berdasarkan cara lepas landas dan mendaratnya pesawat terbang:

Catapult-assisted take-off but arrested-recovery (CATOBAR): kapal induk jenis ini biasanya mampu mengangkut pesawat terbesar, terberat dan bersenjata berat, walaupun kapal induk jenis CATOBAR yang lebih kecil kemungkinan memiliki keterbatasan (kapasitas angkut elevator pesawat, dll). Tiga negara saat ini mengoperasikan kapal induk jenis ini: sepuluh oleh AS dan masing-masing satu oleh Perancis dan Brazil.

Short take-off but arrested-recovery (STOBAR): kapal induk jenis ini pada umumnya terbatas untuk mengangkut pesawat terbang bersayap tetap yang lebih ringan dengan payload yang lebih terbatas. Airwing kapal induk jenis STOBAR, seperti Sukhoi Su-33 dan Mikoyan MiG-29K dari kapal induk Admiral Kuznetsov, biasanya memiliki peran utama sebagai superioritas udara dan pertahanan armada, bukan digunakan dalam misi penyerangan, yang membutuhkan payload yang lebih berat (bom dan misil udara-ke-permukaan). Saat ini hanya Russia yang mengoperasikan kapal induk jenis ini. China telah membangun ulang sister ship dari Admiral Kuznetsov dan membuat tiruan dari Su-33 secara domestik; kapal induk ini sekarang digunakan sebagai kapal induk eksperimental dan pelatihan. Russia juga sedang bersiap untuk membangun ulang sebuah kapal induk kelas Kiev untuk India.

Short take-off vertical-landing (STOVL): Kapal induk ini terbatas untuk membawa pesawat jenis STOVL, seperti pesawat Harrier dan Yak-38, yang umumnya dengan payload terbatas, performa yang terbatas dan dengan konsumsi bahan bakar yang lebih boros dibandingkan dengan pesawat bersayap tetap konvensional. Akan tetapi, pesawat STOVL generasi baru, F-35B memiliki performa yang jauh lebih baik. Kapal induk jenis ini dimiliki oleh India dan Spanyol (masing-masing satu) dan Italia (dua). Inggris dan Thailand masing-maisng memiliki satu kapal induk STOVL yang aktif, tetapi keduanya tidak memiliki pesawat STVOL yang operasional saat ini. Beberapa juga memasukkan sembilan amphibious assault ships milik AS yang memiliki peran sekunder sebagai kapal induk ringan (light carrier), sehingga total kapal induk jenis ini sebanyak lima belas.



Dari Segi Ukuran

Supercarrier

Supercarrier merupakan istilah deskriptif untuk tipe kapal induk terbesar, biasanya dengan bobot mati di atas 70.000 long ton. AL AS saat ini memiliki sepuluh kapal induk jenis ini. Inggris memiliki dua kapal induk kelas Queen Elizabeth yang saat ini dalam masa pembuatan dengan perkiraan penyelesaian pada 2016. Kapal induk kelas Queen Elisabeth diperkirakan memiliki bobot mati 65.000 metrik ton, yang jika selesai, menjadi kapal induk terbesar ketiga yang beroperasi. Supercarriers merupakan kapal perang terbesar yang pernah dibuat, jauh melebihi kelas battleship terbesar yang pernah dibuat.


Fleet Carrier

Kapal induk armada (fleet carrier) adalah kapal induk yang didesain untuk beroperasi dengan armada AL utama milik suatu negara. Istilah ini muncul pada masa PD II, untuk membedakannya dari kapal induk kawal (escort carrier) dan tipe lain yang lebih kecil. Kapal induk armada termasuk supercarrier, standard fleet carrier dan light fleet carrier.

Ide kapal induk armada modern muncul pada 1931 oleh Admiral J.J. Clark dan Harvey E. Yarnell dari AL AS. Alih-alih beroperasi sebagai pengintai bagi armada, kapal induk armada beroperasi serempak dalam armada, untuk menangkal serangan udara dan juga untuk menyerang pasukan musuk dari udara. Cruiser dan destroyer akan melindungi kapal induk armada. Kapal induk armada kemudian menggantikan peran dreadnaught dan battleship sebagai asset terkemuka armada laut. Kapal induk armada dapat mengangkut lebih dari 50 pesawat, dan harus cukup cepat untuk beroperasi bersama elemen lain dari armadanya, seperti cruiser dan battleship.

Selama PD II, sebuah kapal induk armada bisanya membawa tiga skuadron, khususnya skuadron fighter, skuadron torpedo bomber dan skuadrin bomber tukik.


Light Aircraft Carrier

Light aircraft carrier adalah kapal induk yang lebih kecil dari pada kapal induk standar. Definisi tepatnya bervariasai pada tiap negara, biasanya hanya dapat mengangkut setengah atau dua per tiga pesawat daripada kapal induk armada. Light carrier memiliki konsep yang sama dengan escort carrier, tetapi memiliki kecepatan yang lebih tinggi sehingga dapat dioperasikan bersama armada.


Escort Carrier

Escort aircraft carrier atau escort carrier, merupakan kapal induk kecil dan lambat yang digunakan oleh AL Kerajaan Inggris, AL dan AU Kekaisaran Jepang, dan AL AS selama PD II. Mereka memiliki setengah panjang dan sepertiga bobot kapal induk armada. Walaupun lebih lamban, kurang dipersenjatai, lebih tipis lapis bajanya dan mengangkut lebih sedikit pesawat, mereka lebih murah dan lebih cepat pembuatannya. Kurangnya proteksi membuat kapal induk escort rentan dan beberapa tenggelam.

Kapal induk jenis ini kebanyakan dibuat dari hull kapal komersial dan biasanya berperan untuk mengawal konvoi, melindungi mereka dari ancaman musuh seperti kapal selam dan serangan udara. Dalam invasi mainland Eropa dan kepulauan Pasifik, kapal induk escort memberikan dukungan udara bagi pasukan di darat dalam operasi amfibi. Kapal induk escort juga berperan sebagai transportasi pesawat cadangan, dan mengangkut pesawat ke titik pengiriman militer.




FLIGHT DECK

Sebagai "landasan udara di laut”, kapal induk modern memiliki sebuah desain dek flat-top yang berperan sebagai sebuah flight deck untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawat. Pesawat lepas landas ke depan, berlawanan dengan arah angin, dan mendarat dari buritan. Kapal induk berlayar dengan kecepatan 35 knots (65 km/j) berlawanan dengan arah angin selama operasi flight dek untuk meningkatkan kecepatan angin di atas dek. Hal ini meningkatkan kecepatan angin efektif bagi lepas landas pesawat dibantu dengan ketapel maupun ski-jump. Hal ini juga memungkinkan pendaratan menjadi lebih aman dengan mengurangi selisih kecepatan relatif dari pesawat dan kapal.

Pada kapal induk CATOBAR, ketapel bertenaga-uap digunakan untuk mengakselerasi pesawat konvensional hingga mencapai kecepatan aman di ujung dek, setelahnya pesawat terbang dengan mesinnya sendiri. Pada kapal induk STOVL atau STOBAR, pesawat tidak membutuhkan bantuan ketapel untuk lepas landas, tetapi pada hampir semua kapal induk tipe ini menggunakan ski-jump di ujung depan flight dek, dan kadang dikombinasikan dengan thrust vectoring oleh pesawat. Pesawat STOVL dapat lepas landas tanpa bantuan ski-jump, tetapi dengan bahan bakar dan payload terbatas. Bentuk bantuan lepas landas bagi pesawat, tergantung dari tipe pesawat yang digunakan dan juga pada desain kapal induk itu sendiri.

Konfigurasi "angled deck" (gambar: homepages.slingshot.co.nz) 
Sebaliknya, mendarat ke kapal induk CATOBAR atau STOBAR, pesawat konvensional mengandalkan sebuah tailhook untuk menangkap arrestor wires yang dibentangkan melintang pada dek agar pesawat berhenti pada jarak yang pendek. Pasca PD II, penelitian AL Inggris untuk pendaratan CATOBAR yang lebih aman memicu adopsi global untuk area pendaratan yang miring (angled deck) untuk memungkinkan pesawat yang ggaal menggapai arresting wires untuk “melompat” dan kembali terbang dengan aman untuk kemudian mencoba mendarat kembali, dan mengurangi resiko menabrak pesawat yang berada di dek bagian depan. Helicopter dan pesawat V/STOL biasanya mendarat dengan mensejajari kapal induk di sisi kiri dan kemudian menggunakan kemampuan melayangnya (hovering) untuk mendarat di flight dect tanpa bantuan arresting gear.

Pesawat (dengan tailhook) konvensional mengandalkan landing signal officer (LSO, kadang disebut paddles) untuk mengawasi pendekatan/pendaratan pesawat, mengukur glideslope, ketinggian, dan airspeed secara visual, kemudian mengirimkan data tersebut kepada pilot. Sebelum angled deck muncul pada 1950an, LSO menggunakan paddles berwarna untuk memberi isyarat pada pilot. Dari akhir 1950an dan seterusnya, bantuan pendaratan visual seperti sistem pendaratan optik memberikan informasin glide slope yang tepat, tetapi LSO masih memberikan aba-aba pada pilot yang mendekat dengan radio.

Untuk memfasilitasi operasi di atas flight deck, para awak menggunakan pakaian berwarna sesuai dengan tanggungjawab masing-masing. Terdapat paling tidak tujuh warna berbeda yang digunakan oleh personel flight dek. Operasi kapal induk di negara lain menggunakan skema warna yang serupa.

Personel kunci yang terlibat di atas flight deck termasuk shooters, handler, dan air boss. Shooters adalah naval aviators atau Naval Flight Officers dan mereka bertanggung jawab untuk meluncurkan pesawat. Handler bekerja di dalam island dan bertanggung jawab pada pergerakan pesawat sebelum lepas landas dan setelah mendarat. Air boss (biasanya seorang komandan) berada di top bridge (Primary Flight Control, juga disebut primary atau tower) dan bertanggung jawab untuk mengontrol peluncuran, pendaratan, pesawat yang ada di dekat kapal dan pergerakan pesawat di flight deck, yang menyerupai koregrafi balet. Kapten kapal menghabiskan kebanyakan waktunya satu kevel di bawah primary di Navigation Bridge. Di bawahnya Flag Bridge, ditujukan untuk laksamana (embarked admiral) dan staffnya.

Sejak awal 1950an, pendaratan pesawat menjadi lebih praktis dengan adanya angled flight deck. Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan pesawat yang gagal menggapai arresting wires, untuk terbang kembali tanpa resiko untuk menabrak pesawat lain yang parkir di bagian depan dek. Angled deck juga memungkinkan peluncuran dan pendaratan pesawat secara bersamaan dan penambahan satu atau dua ketapel “pinggang” sebagai tambahan dari dua ketapel haluan yang sudah ada.

Superstruktur dari sebuah kapal induk (seperti bridge, flight control tower) terkonsentrasi di sisi kanan dek dalam area kecil bernama island, sebuah fitur yang dipelopori pada HMS Hermes, 1923. Sangat sedikit kapal induk yang didesain atau dibangun tanpa island. Konfigurasi flush deck terbukti memiliki kekurangan signifikan, memperumit navigasi, air traffic control, dan memiliki sejumlah faktor merugikan.

Ski-Jump pada HMS Invincible (foto: wikipedia)
Konfigurasi lebih baru, awalnya dikembangkan oleh AL Inggris tetapi kemudian diadopsi oleh banyak AL untuk kapal induk yang lebih kecil, memiliki lerengan ski-jump. Sebuah ski jump adalah lerengan permanen di ujung flight deck dengan lerengan yang melengkung. Desain ini dikembangkan pertama kali untuk membantu lepas landas pesawat STOVL. Pesawat STOVL seperti Sea Harrier lepas landas dengan beban yang jauh lebih berat dibandingkan dengan lepas landas di dek datar. Ski-jump bekerja dengan mengkonversi pergerakan ke depan pesawat menjadi melompat di ujung akhir dek, lompatan dikombinasikan dengan mengarahkan sebagian daya dorong jet ke bawah memutar exhaust nozzles pada pesawat. Dengan fitur ini, memungkinkan pesawat dengan beban dan bahan bakar lebih untuk mendapatkan kecepatan dan daya angkat udara yang cukup untuk penerbangan normal. Tanpa ski-jump, peluncuran pesawat seperti harrier dengan beban dan bahan bakar penuh tidak mungkin dapat dilakukan, pesawat akan stall atau jatuh langsung ke lautan. Walaupun pesawat STOVL mampu lepas landas secara vertikal, lepas landas dengan ski-jump dianggap lebih efisien bahan bakar dan memungkinkan peluncuran dengan beban lebih berat. Dengan tidak diperlukannya ketapel, kapal induk dengan desain ini, mengurangi berat, kompleksitas dan ruangan yang dibutuhkan untuk peralatan peluncuran tenaga uap atau elektromagnetik kompleks. Pesawat yang mampu mendarat vertikal membuat arresting cables dan peralatan yang berhubungan tidak dibutuhkan. Rusia, China dan kapal induk masa depan India menggunakan ski-jump untuk peluncuran pesawat, tetapi menggunakan arresting cables dan tailhook untuk pendaratannya.

Kekurangan penggunaan ski-jump adalah terbatasnya ukuran pesawat, beban dan bahan bakar (yang selanjutnya berpengaruh pada jarak operasional pesawat). Pesawat sarat muatan tidak dapat menggunakan ski-jump karena membutuhkan jarak lepas landas yang lebih jauh dibandingkan panjang dek. Bantuan dari ketapel atau roket JATO, contohnya pada pesawat Rusia Su-33, hanya dapat diluncurkan dari kapal induk Kuznetsov dengan persenjataan dan bahan bakar minimal. Kekurangan lainnya, pada operasi flight deck campuran, dimana helikopter juga digunakan seperti pada Landing Helicopter Dock atau Landing Helicopter Assault amphibious assault ship milik AS, penggunaan ski-jump akan mengurangi satu atau lebih area pendaratan helikopter, flat deck ini membatasi beban Harrier, tetapi agak dapat diatasi dengan flight dek yang lebih panjang, dibandingkan dengan kapal induk STOVL yang sudah ada.

Flight deck yang tidak biasa diusulkan untuk digunakan pada era jet, dari SCADS conversion kit, hingga Skyhook, seaplane fighters, bahkan flight deck karet. Shipborne containerized air-defense system (SCADS) telah mengusulkan sebuah modular kit untuk mengkonversi sebuah kapal Ro-Ro atau Container menjadi sebuah kapal induk STOVL dalam dua hari selama masa darurat dengan kapasitas bahan bakar jet, amunisi, sistem pertahanan dan misil untuk 30 hari, helikopter ASW, awak dan area kerja, radar, dan sebuah ski-jump. Setelah penggunaan, kit ini dapat dengan cepat dilepas dan disimpan, sistem ini merupakan modern merchant aircraft carrier yang efektif. Skyhook yang diusulkan oleh British Aerospace bahkan lebih ambisius. Sistem ini menggunakan derek dengan sebuah top mating mechanism yang tergantung di atas lautan untuk mengisi bahan bakar, meluncurkan dan mendaratkan Harrier, bahkan dari kapal berukuran kecil seperti frigate.

Convair F2Y Sea Dart merupakan pesawat supersonik yang memiliki ski dan bukan roda. Pada akhir 1940an, AL kuatir bahwa pesawat supersonik tidak dapat mendarat di kapal induk, oleh karena itu diturunkan dan dinaikkan dari laut menggunakan derek. HMS Warrior menguji flight deck berlapis karet yang mana de Havilland Vampire berhasil mendarat tanpa bantuan landing gear atau tailhook.



KAPAL INDUK OPERASIONAL

Kapal induk pada umumnya merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh sebuah AL. Total 20 kapal intuk beroperasi dan dimiliki oleh sepuluh AL. Australia, Brazil, China, Perancis, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, Spanyol, Thailand, Inggris, dan AS, juga mengoperasikan kapal yang mampu mengangkut dan mengoperasikan banyak helikopter.

Empat kapal induk modern, USS Stennis, FS Charles de Gaulle, USS John F Kennedy, dan HMS Ocean bersama kapal-kapal pengawalnya (Foto: wikipedia) 

Brazil (1)

NAe São Paulo (A12): Kapal induk ex-Perancis FS Foch (diluncurkan pada 1960) berbobot 32,800 ton, dibeli pada 2000.


China (1)

Liaoning: awalnya merupakah badan kapal yang dipreteli dari kapal induk ex-Soviet kelas Varyag, kelas Kuznetsov berbobot 57.000 ton, diresmikan pada 25 September 2012, dan mulai beroperasi untuk ujicoba dan pelatihan. Pada 25 November 2012, Liaoning berhasil meluncurkan dan mendaratkan beberapa pesawat fighter Shenyang J-15.


France (1)

Charles de Gaulle (R 91): kapal induk bertenaga nuklir dengan bobot 42,000 ton, diresmikan pada 2001.


India (1)

INS Viraat: kapal induk STOVL ex-Inggris HMS Hermes (diluncurkan pada 1953) berbobot 28.700 ton yang dibeli pada 1986 dan diresmikan pada 1987. Rencananya akan dipensiunkan pada 2019.


Italy (2)

Giuseppe Garibaldi (551): kapal induk STOVL milik Italia berbobot 14,000 ton, diresmikan pada 1985.

Cavour (550): kapal induk STOVL milik Italia yang berbobot 27,000 ton, didesain dan dibangun dengan fasilitas sekunder untuk amphibious assault, diresmikan pada 2008.


Russia (1)

Admiral Flota Sovetskovo Soyuza Kuznetsov: Kapal induk STOBAR kelas Kuznetsov berbobot 55,000 ton. Diluncurkan pada 1985 dengan nama Tbilisi, diganti nama dan beroperasi mulai 1995. Tanpa ketapel, kapal ini dapat meluncurkan dan mendaratkan pesawat tempur AL untuk pertahanan udara atau misi anti-kapal, tetapi tidak untuk pesawat bomber konvensional. Secara resmi dirancang sebagai cruiser pengangkut pesawat (aircraft carrying cruiser), kapal ini unik dengan perlengkapan heavy cruiser, dengan persenjataan defensif dan misil ofensif besar P-700 Granit.Sistem P-700 akan dihilangkan untuk memperluas fasilitas aviasi di bawah dek, serta untuk mengupgrade sistem pertahanannya.


Spanyol (1)

Juan Carlos I (L61): berbobot 27,000 ton. Didesain secara khusu sebagai multipurpose strategic projection ship yang dapat beroperasi sebagai amphibious assault ship atau kapal induk STOVL tergantung kebutuhan misi dan memiliki fasilitas penuh untuk kedua fungsi tersebut termasuk sebuah ski-jump, well deck, dan area penyimpanan kendaraan yang dapat digunakan sebagai ruang hangar tambahan, diluncurkan pada 2008, dan diresmikan pada 30 September 2010.


Thailand (1)

HTMS Chakri Naruebet: kapal induk STOVL berbobot 11,400 ton yang berbasis desain kapal induk Spanyol Principe De Asturias. Diresmikan pada 1997. Pesawat STOVL AV-8S Matador/Harrier kebanyakan tidak dapat dioperasikan sejak 1999, dan dipensiunkan tanpa pengganti pada 2006. Kapal induk ini sekarang digunakan untuk kapal pesiar VIP kerajaan, operasi helikopter dan sebagai platform bantuan bencana.


United Kingdom (1)

HMS Illustrious: kapal induk STOVL berbobot 22,000 ton, diresmikan pada 1982. Awalnya ada tiga kapal sekelas, tetapi dua di antaranya dipensiunkan untuk penghematan anggaran. Operasi pesawat bersayap tetap reguler AL Kerajaan Inggris berhenti setelah Sea Harrier dan kemudian pesawat Harrier dari pasukan gabungan AU dan AL Kerajaan Inggris dipensiunkan untuk penghematan anggaran pada 2010. Kapal induk ini sekarang beroperasi sebagai Landing Platform Helicopter hingga Ocean kembali beroperasi setelah refit dan kemudian akan dijadikan sebagai museum pada 2014.


United States (10+9*)

Kelas Nimitz: sepuluh supercarrier bertenaga nuklir dengan bobot 101,000 ton. Kapal induk pertama diresmikan pada 1975. Sebuah kapal induk kelas Nimitz didukung dua reaktor nuklir dan empat turbin uap. Panjang kapal ini 333 m.

USS Peleliu (LHA-5)* adalah sebuah amphibious assault ship berbobot 40,000 ton. Merupakan kapal kelas Tarawa yang terakhir. Kapal ini telah digunakan selama masa perang dalam misi sekunder sebagai kapal induk kecil dengan 20 pesawat fighter AV-8B Harrier, setelah menurunkan muatan unit ekspedisi marinir mereka.

Kelas Wasp* merupakan kelas kapal yang terdiri dari delapan amphibious assault ship berbobot 41,000 ton. Kapal ini telah digunakan selama masa perang dalam misi sekunder sebagai kapal induk kecil dengan 20 pesawat fighter AV-8B Harrier, setelah menurunkan muatan unit ekspedisi marinir mereka..

(*Normalnya hanya dapat mengangkut beberapa Harrier. Peran utamanya adalah untuk mengangkut, meluncurkan dan mendukung pengangkutan dan penyerangan helikopter, tank, truk, meriam, marinir dan peralatan dari unit ekspedisi marinir yang diluncurkan.)



KAPAL INDUK MASA DEPAN

Beberapa negara yang saat ini memiliki kapal induk merencanakan kapal induk kelas baru untuk menggantikan yang sudah ada. Angkatan laut dunia secara umum melihat kapal induk sebagai capital ship masa depan yang utama.


China

Pada akhir Desember 2008 dan awal Januari 2009, terdapat berbagai laporan bahwa China membangun dua kapal induk bermesin konvensional dengan bobot mati 50.000 – 60.000 ton, yang kemungkinan akan diluncurkan pada 2015. Pada Desember 2010, State Oceanic Administration China mengumumkan bahwa kapal ini akan selesai dibangun lebih awal pada 2014. Sebuah kapal induk bertenaga nuklir akan diluncurkan sekitar 2020.

Menurut James Nolt, fellow senior dari World Policy Institute, New York, kemungkinan China akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan teknologi, pelatihan dan kemampuan operasional yang dibutuhkan untuk kapal induk yang efektif.

Pada 25 September 2012, NBCNews.com melaporkan bahwa pemerintah China meresmikan kapal induk pertamanya, Liaoning. Akan tetapi, kapal induk ini tidak dibuat oleh China, tetapi merupakan kapal Varyag yang laid down untuk AL Soviet pada 1988, sebagian dibuat di galangan kapal Ukraina. Kapal ini dibeli oleh China pada 1998 dalam bentuk peretelan badan kapal, dengan dalih sebagai kasino terapung, kemudian dibangun ulang dan ditarik ke China untuk penyelesaian akhir. Pada 24 November 2012, China mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya Liaoning berhasil meluncurkan dan mendaratkan beberapa pesawat fighter jet J-15.


Perancis

AL Perancis telah membuat rencana pengadaan kapal induk CTOL kedua untuk melengkapi Charles de Gaulle. Desainnya akan lebih besar, pada kisaran 65.000-75.000 ton, dan bukan bertenaga nuklir. Terdapat rencana untuk membuat kapal induk ini berjenis CATOBAR bersama AL Inggris (desain Thales/BAE Systems untuk AL Inggris adalah untuk kapal induk STOVL, tetapi dapat dikonfigurasi ulang menjadi CATOBAR.)

Pada 21 Juni 2008, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy memutuskan untuk menunda partisipasi Perancis. Dia menyatakan keputusan akhir untuk kapal induk Perancis akan diambil pada 2011 atau 2012. Inggris merencanakan dua pembangunan kapal induk akan terus berjalan dengan atau tanpa partisipasi Perancis.


India

Pada 2004, India setuju untuk membeli Admiral Gorshkov dari Rusia dengan harga 1.5 miliar dolar AS. Kapal ini kemudian diganti namanya menjadi INS Vikramaditya, dan diharapkan untuk bergabung dengan AL India pada 2008 setelah refit. Akan tetapi, akibat penundaan dan pembengkakan biaya, kapal induk ini sekarang dijadwalkan akan diserah terimakan ke India pada kuartal akhir 2013, dengan harga 2.35 miliar dollar AS.

India mulai pembangunan kapal induk kelas Vikrant dengan bobot 40,000-ton dan panjang 260-metre pada April 2005. Kapal induk baru ini akan membutuhkan biaya 762 juta dolar AS dan akan mengoperasikan MiG-29K, HAL Tejas versi AL, dan pesawat Sea Harrier bersama dengan helikopter buatan India HAL Dhruv. Kapal ini akan bertenaga empat mesin turbin dan dengan jarak jangkay 8.000 mil laut (14,000 km), membawa 160 opsir, 1,400 pelayar dan 30 pesawat. Kapal induk ini dibangun di galangan kapal pemerintah di Cochin dan dijadwalkan untuk diresmikan pada 2014.

Pada Desember 2009, Kepala AL Admiral Nirmal Verma menyatakan pada konfrensi pers, bahwa konsep kapal induk saat ini sedang dipelajari oleh Directorate of Naval Design untuk kapal induk buatan domestik yang kedua, IAC-2. Kapal induk ini bermesin konvensional dengan bobot mati lebih 50,000 ton dan dilengkapi dengan ketapel uap (bukan ski-jump seperti Vikramaditya dan IAC) untuk meluncurkan pesawat generasi keempat. Tujuannya adalah agar India memiliki total tiga kapal induk yang operasional, dengan dua kapal induk beroperasi penuh dan sisanya dalam refit. Tujuan ini akan meningkatkan efektifitas AL India secara keseluruhan. Rencana jangka panjang AL India adalah untuk memiliki enam kapal induk operasional


Russia

Berbicara di St. Petersburg, Russia pada 30 Jun 2011, Kepala United Shipbuilding Corporation Rusia, menyatakan bahwa perusahaannya diharapkan untuk mulai pengerjaan desain kapal induk baru pada 2016, dengan target awal konstruksi pada 2018 dan mulai operasional pada 2023. Beberapa bulan kemudian pada 3 November 2011, koran Rusia Izvestiya melaporkan bahwa rencana pembangunan AL saat ini termasuk pembangunan galangan kapal yang mampu membuat kapal dengan hull besar, setelah itu Moscow akan mulai membangun dua kapal induk bertenaga nuklir pada 2027. Juru bicara menyatakan bahwa satu kapal induk akan beroperasi dengan Armada Utarra AL Rusia di Murmansk dan yang lainnya dengan Armada Pasifik di Vladivostok.


Turki

Pada 16 Mei 2011, Turkish Under-secretariat for Defense Industries mengeluarkan sebuah Request for Proposal untuk akuisisi sebuah Landing Platform Dock dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional Pasukan AL Turki.

Proyek empat miliar dollar ini kemudian berubah menjadi desain, pengembangan dan pembangunan kapal induk non-nuklir dengan panjang 230 meter dan bobot 24,000 - 28,000 ton yang mampu mengoperasikan 12 hingga 20 pesawat F-35 VTOL, 700 pasukan, 60 MBT, helikopter serang dan helikopter angkut berat.

Bersama dengan perkembangan proyek, Under-secretariat for Defense Industries Turki diperintahkan untuk pengadaaan 20 F-35 varian VTOL sebagai tambahan dari 100+ F-35C yang kemungkinan akan dibeli oleh Turki.

Perusahaan Naval Turki merespon Request for Proposals dengan tiga pilihan:
1. Usaha gabungan dengan Shipbuilding Corporation China
2. Pembangunan domestik sendiri
3. Usaha gabungan dengan Navantia S.A. Spanyol

Keputusan siapa yang akan mendapatkan tender kapal induk akan diumumkan pada Januari 2013.

Pada Januari 2012, Turki melakukan pemesanan untuk 1 F-35A dan 1 F-35C pada Low Rate Initial Production batch. Dengan demikian, ini merupakan bukti bahwa Turki berniat untuk membali 100+ F-35 CTOL dan 20 F-35 varian kapal induk untuk usaha pengembangan kapal induk.


United Kingdom

AL Kerajaan Inggris sedang membangun dua kapal induk STOVL, kelas Queen Elizabeth, untuk menggantikan kapal induk kelas Invincible. Kapal tersebut diberi nama HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales. Mereka akan dapat mengoperasikan hingga 40 pesawat dan akan memiliki bobot mati sekitar 65.000 ton. Kapal induk ini akan mulai beroperasi pada 2020. Pesawat utama yang akan menjadi pelengkapnya adalah F-35B Lightning II, dan dengan awak sekitar 1450. Kedua kapal induk tersebut menjadi yang terbesar dari semua kapal perang yang pernah dibuat oleh AL Kerjaan Inggris.


United States

Armada AS saat ini, kapal induk kelas Nimitz Takan diikuti (atau akan digantikan) dengan beroperasinya kapal induk kelas Gerald R. Ford. Kapal induk baru ini diharapkan akan lebih otomatis untuk penghematan biaya perawatan dan pengoperasian supercarrier ini. Fitur baru utamanya adalah implementasi Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS) (yang menggantikan sistem ketapel uap) dan pesawat tanpa awak (UAV).

Dengan penonaktifan USS Enterprise pada Desember 2012 (jadwal pensiun 2013), armada AS terdiri dari 10 supercarriers. Pada 24 Juli 2007 House Armed Services Seapower subcommittee merekomendasikan tujuh atau delapan kapal induk baru (satu setiap empat tahun). Akan tetapi, perdebatan semakin dalam pada anggaran sebesar 12-14,5 miliar dolar (ditambah 12 miliar dolar untuk pengembangan dan riset) untuk kapal induk kelas Gerald Ford berbobot 100.000 ton, dibandingkan dengan anggaran 2 miliar dolar amphibious assault ships kelas America berbobot 45.000 ton yang juga mampu meluncurkan skuadron F-35B. Dua amphibious assault ships kelas America saat ini dalam masa pembuatan dan 12 direncanakan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar