Selasa, 13 Maret 2012

F-16 Users, Bag. 2


11. Jordan
Al Quwwat al Jawwiya al Malakiya al Urduniya
Royal Jordanian Air Force – RJAF


Introduction

Royal Jordanian Air Force mengoperasikan total 64 unit F-16A / B 16 di antaranya ADF, sementara 39 unit sisanya MLU atau telah dimodifikasi untuk standarisasi MLU.


History

Pada bulan Juli 1994, Raja Hussein dari Yordania menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel, mengakhiri lebih dari 40 tahun permusuhan antara kedua negara. Tak lama kemudian, pemerintah Yordania mulai melobi kedalam pemerintah Amerika untuk membeli sebanyak 42 unit F-16A / B fighting falcon. Permintaan ini telah menunggu persetujuan yang cukup lama.

AF Yordania mengoperasikan F-16 dari HAS - Hardened Aircraft Shelters

Negara yang mungkin paling berpengaruh dalam seluruh kesapakatan adalah israel yang mendukung secara antusias untuk mentransfer 16 unit F-16 ke yordania dan menjadi pendukung utama dalam mendesak pemerintah amerika serikat untuk menyepakati kesepakatan tersebut.


Inventory

Peace Falcon I

Pada tanggal 29 Juli 1996, perjanjian $ 220 M telah ditandatangani antara AmerikaSerikat dan Jordan authorizing the lease 16 unit F-16 fighter jet 12 unit F-16A and 4 F-16B) ke Yordania. Perjanjian ini, secara resmi ditandatangani oleh Marsekal Marei, Kepala staf Angkatan Bersenjata Kerajaan Yordania dan Mayor Jenderal Ababneh, kepala staf dari Royal Jordanian Air Force telah menjadi terikat dengan proses perdamaian ditimur tengah dan menjalin hubungan dekat AS-Yordania. Materi/pelatihan yang lengkap mendukung perjanjian, yang dikenal sebagai F-16 Peace Falcon Program, termasuk dana untuk structural upgrade,modifikasi mesin, peralatan pendukung/support equipment dan pengadaan suku cadang, dan pilot/maintenance training (peltihan dalam pemeliharaan).

Formasi Empat-Pesawat F-16A RJAF  di atas gurun Yordania

Perjanjian tersebut terdiri dari dua kontrak sewa dan Letter of Offer and Acceptance (LoA). Sewa pertama adalah sewa tanpa biaya untuk Yordania, yang meliputi 13 unit pesawat (12 unit A model dan 1 unit B model Block 15 OCU yang dimodifikasi ke dalam versi ADF (Air Defense Fighters) dibawah Arms Export Control Act, DoD sanggup menyediakan pesawat ini tanpa biaya sewa karena pesawat-pesawat tersebut telah terbang lebih dari 75% dari masa hidupnya/masa jam terbangnya. (yaitu lebih dari 3.000 jam) Tiga pesawat B-model yang masih memiliki lebih dari 25 persen masa hidup jatuh dibawah sewa $4.5 M, kedua sewa mencakup periode 5 tahun. LOA $215 M tersebut mencakup semua biaya yang terkait dengan upgrade pesawat mereka, melakukan modifikasi struktural, upgrade mesin, menyediakan peralatan pendukung, logistik, dan pelatihan.

Pesawat, yang semuanya telah diterbangkan sebelumnya oleh Air Force and Air National Guard units telah berada di storage/penyimpanan untuk setidaknya satu tahun di Aerospace Maintenance and Regeneration Center (AMARC) di Davis Monthan AFB, Tucson, Arizona sebelum mereka dikirim Hill AFB, Utah. Aircraft Directorate personnel dari Ogden Air Logistics Center dilakukan structural upgrades untuk memperpanjang kehidupan pesawat dari 4.000 sampai 8.000 jam terbang sebagai bagian dari Falcon-Up/Service Life Improvement program. Pesawat tersebut juga dimodifikasi engine bay agar dapat menerima upgrade dari Pratt and Whitney F100-220E engine. New ground was broken dengan program Foreign military Sales ini : mengambil F-16 yang digunakan dari padang pasir (AMARC), untuk melakukan perbaikan dan modifikasi secara complit/menyeluruh agar dapat digunakan oleh mereka dalam jangka waktu 17-bulan.

Pada tanggal 14 Oktober 1997, Letnan Kolonel Scott Curtis, flying safety officer di Hill AFB, mendorong throttles kedepan dan melepaskan brakes pada pesawat F-16 fighting falcon. Dalam hitungan detik, pesawat dipercepat sampai 140 knot dan pesawat F-16 pertama yordania (nomor ekor 80-0547 #) terbang/telah terbang keudara, butuh waktu lebih dari 13,000 man-hours untuk menyiapkan F-16 ini agar siap dalam penerbangan pertamanya. # 80-0547 tidak terbang, sejak bulan November 1994, ketika itu diterbangkan dari Stasiun ANG di Garden City, NJ ke Aerospace Maintenance and Regeneration Center, Davis-Monthan, Arizona. roll-out of the Peace Falcon terjadi tanggal 28 Oktober 1997, di Hill AFB, Utah.

Enam unit pesawat telah siap untuk melakukan ferry flight ke yordania dan lima unit akan siap melakukan ferry flight di bulan Januari dan Februari 1998. Pada saat itu, RJAF yang direncanakan untuk mendapatkan sebanyak 50-70 unit F-16 (jika mungkin C / D model), cukup untuk melengkapi 3 skuadron.


Peace Falcon II

Ada perbincangan tentang batch kedua dari 16 unit F-16 yang diperbaharui ,yang akan dikirim dibawah program Peace Falcon II. Setelah pembicaraan awal di tahun 1999, tidak ada berita lebih lanjut tentang pengadaan program ini, RJAF masih mencari pengganti F-5 fighter yang telah menjadi usang dan telah jatuh tempo dalam beberapa tahun kedepan,mereka mendukung F-16 sebagai batch lain dalam penggantian pesawat usang ini.

Pada tanggal 29 Januari 2003, berbagai sumber menunjukkan bahwa Jordan menerima 6 unit F-16 fighter. hari itu dalam sebuah upacara yang diadakan di Shahid Al-Satlti Muafaq AFB. cerimonial ini dihadiri oleh Pangeran Faisal bin Husain dan Dubes AS Jordan Edward W. Gnehm. Kedutaan AS di Amman menyatakan bahwa pesawat 6 unit adalah pesawat pertama dari batch yang lainnya yaitu 17 unit (12A dan 5 B) yang akan dikirimkan ke yordania selama tahun 2003. Semua pesawat ini adalah ex US ANG F-16 ADF. Pesawat-pesawat ini harus diupgrade dengan modifikasi MLU.

Akhirnya, 16 unit A-model dan 1 unit B-model telah terkirim ke RJAF, kebanyakan dari airframe pesawat tersebut berada dalam storage yang kemudian masuk ke program MLU oleh mereka. Pada tahun 2008 modifikasi ini berada dalam full swing di fasilitas TUSAS di angkara, Turki. Pada tahun 2009, semua modifikasi airframe akan dikirim kembali ke Yordania untuk penggunaan operasional.


Peace Falcon III

Pada tahun 2005 RJAF menghubungi pemerintah Belanda dan Belgia untuk batch F-16. Pada bulan April 2006 wakil-wakil dari kedua angkatan udara terbang ke Amman untuk menandatangani Letter of Intent untuk mengakuisisi hingga 22 unit ex belanda (8 unit airframes) dan ex Belgia (14 unit airframes), semuanya terdiri dari17 unit A-model dan 5 unit B-model (Belanda: 5 unit A-model, 3 unit B-model; Belgia: 12 unit A-model, 2 unit B-model). Semua pesawat ini telah mengalami upgrade MLU yang memberikan dorongan serius pada Yordania dalam kekuatan udara dan juga memungkinkan sneek preview, mereka akan mendapatkan kembali setelah seluruh armada mereka ditingkatkan dengan paket ini. Pesawat dijadwalkan akan dikirimkan dalam tahun 2007-2008.

F-16AM RJAF # 152 terlihat mendarat di Aviano AB pada tanggal 19 Maret 2009, selamapersinggahan sebelum melanjutkan ke Yordania. Pesawat ini adalah ex-BAF #FA-90.

Pada tahun 2009, F-16 Belgia (12 unit A dan 4 unit B) sebanyak 16 unit telah terkirim, namun pesanan Belanda untuk A-model dibatalkan. Pada waktu itu akan dilaksanakan pembelian pertama 3 unit B-model dari Belanda dan 3 unit B-model yang disertakan dalam pembelian kedua akan diserahkan ke Yordania pada tahun2009 sebagai bagian dari Peace Falcon IV.


Peace Falcon IV

The Dutch Secretary of Defence mengumumkan di Dubai Air Showpada bulan November 2005, bahwa ia telah menandatangani Letter of Intent untuk pembelian 3 unit F-16B dengan RJAF. Pesawat ini akan digunakan sebagai aset pelatihan dan akan dikirim pada tahun 2006.

Pada akhirnya jumlah pesawat dinaikkan menjadi 6 unit,semuanya menjadi F-16 BM, Penyerahan tersebut ditunda sampai musim panas 2009.


Peace Falcon V

Pada tahun 2009 pemerintah Belgia memutuskan untuk menempatkan 9 unit F-16 AM untuk dijual. Negara pertama yang merespon adalah Jordan dan negosiasi telah berlangsung sampai tahun 2011. Akhirnya pengiriman terdiri dari 6 unit F-16AM dan 3 unit F-16BM, semua dikirimkan pada bulan Juli 2011. Jumlah F-16 yordania meningkat menjadi 64 unit dengan pengiriman ini.




Modifications and Armament

Mid-life Update

Selama beberapa tahun Royal Jordanian AF mengakui perlu mid-life update pada pesawat mereka dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Tidak jelas waktu yang dibutuhkan dan apa saja yang dibuat/diperlukan dalam program MLU atau hanya untuk update pada umumnya.

Pada bulan Januari 2004 LOA untuk kontrak $87 M telah ditandatangani antara Yordania dan Lockheed-Martin untuk update 17 unit pesawat Peace Falcon II. Modifikasi ini terdiri dari enhancements /perangkat tambahan ke kokpit, avionik, sensors dan weapons. Upgrade juga termasuk falcon up dan falcon star structural upgrades. Struktural upgrade ini akan memperpanjang umur layanan untuk 8.000 jam penerbangan dengan pesawat ini mampu tetap dalam pelayanan selama 20 tahun. Upgrade akan dilakukan oleh Turkish Aerospace Industries di Ankara fascilities.

Armament and Stores

Armament utama F-16 RJAF adalah AIM-9 Sidewinder, meskipun RJAF berharap memperoleh AIM 120 AMRAAM dalam waktu yang lama, Pada tanggal 24 November 2004 kesepakatan diumumkan di mana Yordania akan menerima hingga 50 rudal AIM-120C dan peralatan yang terkait dalam kesepakatan senilai $ 39 M.



12.Morocco
Al Quwwat al Jawwiya al Malakiya
Royal Moroccan Air Force – RMAF


Introduction

Pada tahun 2008 Royal Moroccan Air Force memesan 24 unit F-16 untuk memperkuat F-5 dan Mirage F-1 yang ada, bersama dengan pemesanan ini complete warfare juga di negoisasikan.


History

Kembali pada tahun 1991, Maroko memiliki kebutuhan yang mendesak untuk menggantikan armada F-5E / F dan menggantikan habis Mirage F-1CH/EH force, Terutama ketika Aljazair memutuskan untuk membeli sampai dengan 100 unit MiG-29 untuk menggantikan MiG-21 dan MiG-23 tua mereka.

Maroko telah didanai oleh Arab Saudi dan UEA untuk tujuan pembelian 20 unit ex-USAF F-16A/B. Sebuah kontrak dengan pemerintah AS ditandatangani pada bulan November tahun itu. Namun, pemerintah Maroko juga melihat Mirage 2000 yang juga didorong oleh kesepakatan SAGEM untuk meng-upgrade Mirage F-1CH/EH milik maroco. Both deals never came through though.

Pesawat F-16C Block 52 #08-8001 Pertama milik Maroko, terlihat pada 21 September 2010. Dijadwalkan terbang pada musim gugur 2010. Maroko menjadi negara ke-24 yeng mengoperasikan F-16. Negara ini memesan 24 F-16 block 52 pada 2009. Skema dua warna coklat muda dengan warna abu-abu di bagian bawah adalah warna khas AU Maroko


Inventory

Initial Order

Pada tahun 2007, pemerintah Maroko memulai pemutaran negoisasi lain untuk membeli pesawat tempur baru untuk angkatan udara. Pemicu pembelian ini adalah tetangganya Aljazair telah membeli batch lain 30 unit Mig-29SMT dan memesan baru untuk 28 unit Su-30MKA.

Tampaknya untuk beberapa waktu Dassault Rafale yang akan memperoleh keberhasilan ekspor pertama. untuk membuat 18 unit Rafales dengan biaya $ 3.3B. AS membalas penawaran ini dengan menyatakan akan memberikan hingga 36 unit F-16 second-hand dengan biaya hanya 1.4 B USD. Prancis mati-matian mencoba untuk mendapatkan kontrak ini dengan menyediakan 12 unit Rafale dan 12 unit Mirage 2000, atau 24 unit Rafale dengan biaya $ 2.85 B. Namun, nilai tukar antara USD dan euro di tahun 2008 adalah cara yang lebih mendukung/menguntungkan USD, membuat penawaran pembelian F-16 akan menjadi realistis dibandingkan dengan rafale.

Setelah negosiasi dengan pemerintah AS, Royal Moroccan Air Force diberikan garansi untuk pesanan hingga 24 unit F-16 Block 52 baru untuk memperkuat F-5 dan Mirage F-1 fighter dengan biaya $ 2.4 B.









13. Norway
Luftforsvaret
Royal Norwegian Air Force – RnoAF


Introduction

Royal Norwegian Air Force (Luftforsvaret) adalah salah satu dari empat awal Angkatan Udara Eropa yang Berpartisipasi yang memesan total 74 unit F-16 A/B, Dari jumlah tersebut, 56 telah diupgrade melalui program MLU, F-16 Norway akan diganti pada tahun 2015, dan calon yang paling memungkinkan adalah F-35 Lightning II dan dan Eurofighter Typhoon.


History

Pada tahun 1970, Norwegia mulai mencari pengganti armada F-104 Starfighters yang sudah tua. Kandidat termasuk Mirage F.1, Saab 37 Viggen, dan pemenang dalamkompetisi Light-Weight Fighter ( Northrop F-17 atau F-16).

F-16B block 15 RNOAF didepan HAS dipangkalan udara Andøya. Pilot memiliki dayglo survival suits, untuk kebutuhan atas perairan dingin Norwegia.

Inventory

Initial Order

Pada tanggal 21 Juli 1975, Norwegia, Belgia, Belanda dan Denmark memesan F-16 bersama-bersama, mereka membentuk di tahun 70-an konsorsium Eropa yang mana telah membangun F-16 dibawah license. Norwegia mengakuisisi 60 unit F-16A dan 12 unit F-16B dari jalur produksi Fokker Belanda antara bulan Januari 1980 dan Juni 1984.

Fighting falcon pertama Luftforsvaret (Royal Norwegian Air Force) lepas landas untuk penerbangan perdananya pada tanggal 12 Desember, 1979. Semua Blok 1 dan Blok 5 telah dibangun kembali ke standarisasi Block 10, F-16 RnoAF membawa skema warna yang tidak biasa semua abu-abu muda, dengan bendera Norwegia pada ekor, bersama dengan nomor urut 3-digit yang berasal dari serial Amerika Serikat, dan roundels pada pesawat.


Attrition Replacements

Dua unit F-16B Blok 15 telah dipesan sebagai penggantian. Mereka tidak dibangun pada lini produksi Fokker, namun dikirim langsung dari General Dynamics.


Possible Future Orders

Pelayanan ini diharapkan dapat memperoleh 30 unit dan 40 unit fighter baru untuk menggantikan F-5A / B fighter yang diopersikan oleh Rygge yang berbasis di Skuadron336, skuadron tempur kelima RnoAF. 40 unit pesawat baru juga dimaksudkan sebagai pengganti F-16 yang hilang selama bertahun-tahun. Setelah evaluasi dari limapesawat potensial, kementerian pertahanan mengumumkan pada bulan Februari 1999 bahwa pilihan telah menyempit ke Eurofighter Typhoon dan Lockheed Martin F-16C / D Block 50N. Jika program menerima persetujuan Parlemen, yang berharap Kementrian Pertahanan akan berlangsung pada pertengahan tahun, Request for Proposals (RfP) akan diterbitkan segera. Hal ini bisa mengakibatkan kontrak yang dijadwalkan. pada akhir tahun 1999. Pengiriman akan dimulai pada tahun 2003. Pesawat ini kemungkinan besar akan disebarkan dengan 338 Sqn di ï ¿½rland, dan 336 Sqn di Rygge. Yang terakhir ini mungkin saja bergabung dengan 338 Sqn.

Pada bulan Februari 1999, Departemen Pertahanan mengumumkan pengeluaran surat pengadaan,meminta konsorsium Eurofighter dan LMTAS untuk menawarkan pasokan 20 unit pesawat jet pada periode 2003-2010 dengan opsi 10 unit pesawat tambahan.Pemasok diminta untuk menawarkan alternatif pembayaran-dan pengiriman jadwal. Permintaan juga termasuk permintaan untuk mengimbangi 100 persen, di mana industri Norwegia akan dijamin setara dengan total biaya urutan kontrak lainnya.

Namun, selama tahun 2000 pemerintah Norwegia mengumumkan putaran restrukturisasi. Salah satu langkah adalah untuk meninggalkan rencana fighter baru untuk menggantikan F-5. Norwegia sekarang tinggal menunggu sampai diperkenalkannya JSF sehingga mungkin menggantikan semua fighternya sekaligus.

Di luar tahun 2015, RNoAF berencana untuk menggantikan F-16 dengan 40 fighter baru. Norwegia mempunyai komitment dengan dana sekitar $10 M untuk menjadi 'mitra asosiasi' di US proyek Joint Strike Fighter(JSF) meskipun para pejabat stres ini tidak melibatkan komitmen untuk membeli JSF.





Modifications and Armament

Modifications

Landasan pacu pendek Norwegia dan bersalju, mendiktekan/menunjukan bahwa F-16 mereka dilengkapi dengan rem parasut untuk menangani situasi di mana rem roda biasa tidak dapat digunakan. parasut ini ditempatkan di dalam ekstensi persegi besar di dasar sirip ekor, dan F-16 norwegia benar-benar F-16 pertama yang akan dilengkapi dengan chutes/parasut.

Semua F-16A Norwegia (tapi tidak ada B-model) juga membawa identification spotlight (mirip dengan contoh yang dipasang pada F-16 Denmark yang digunakan untuk mengidentifikasi selama intercept pada malam hari. spotlight dijuluki dengan 'Russer-lyset' (which translates to 'The Russian Light') untuk alasan yang jelas.

F-16A Norwegia # 672, dengan full load  berisi air-to-air missiles (4x AMRAAM and 2x Sidewinder). Perhatikan ID spotlight tepat di bawah dan di depan kokpit.

F-16 Royal Norwegian Air Force dilengkapi dengan Northrop Grumman AN/ALQ-162 internally mounted deception jammer. Pada bulan April 1998, Norwegia memutuskan untuk mengakuisisi upgrade Shadowbox II AN/ALQ-162. Hal ini akan meningkatkan kemampuan baseline jammer untuk menolak lock-on by pulse-Doppler (PD) dan airborne intercept (AI) radar threats.


Mid-life Update

Norwegia berpartisipasi dalam program MLU dan akan mengirimkan 56 unit airframes - 11 unit Bravo dan 45 unit Alpha (all Block 10 or 15 a/c). Jumlah pesanan kit MLU kurang satu dari persediaan F-16 pada saat itu. Alasan untuk ini adalah bahwa, statistik RnoAF akan kehilangan setidaknya satu unit pesawat sebelum proyek mulai dilaksanakan. Bahkan rasio pesawat-ke-kit ratio was #78-0274. F-16A #299 dari 338skv is Norway's TVI-airframe (Trial Verification Installation) dan flies in American colors with the OT&E (Operational Test & Evaluation) unit, bekerja pada pesawat MLU yang terakhir di Air Force Depot di Kjeller selesai pada bulan Desember 2001.


Armament

Standar armament F-16 RnoAF termasuk AIM-9L Sidewinder missiles. F-16 Norwegia memiliki role penting dalam anti-shipping dan juga dapat membawa dan meluncurkan Kongsberg Penguin anti-ship missile yang dibuat di lokal. Pengiriman 3 Penguin dimulai pada tahun 1987. Penguin missile juga diuji oleh USAF dibawah penunjukan AGM-119. Mid-course guidance oleh inertial system dan radio altimeter, sementara bidikan akhir adalah dengan infrared seeker. Penguin missiles telah disupplay ke Skvadron 334.

F-16 A block 15 Norwegia # 662 membawa dua Penguin anti-ship missiles dan empat AIM-9 Sidewinders, Air force Norwegia adalah satu-satunya yang menggunakan ASM Penguin pada F-16.

MLU memperkenalkan AIM-120 AMRAAM, dalam programnya yang diharapkan dengan biaya NKr4.5 billion (USD $602.2 M), RnoAF dapat memperoleh AIM-120B Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile (AMRAAM)-menyediakan kemampuan beyond-visual-range air-to-air untuk pertama kalinya. Pengiriman, di bawah kontrak (FMS) dimulai pada tahun 1995 dan akan diselesaikan pada tahun 2000.

F-16 Royal Norwegian Air Force menggunakan Paveway II (Mk 82) laser-guided bomb untuk pertama kalinya pada bulan September 1997. Laser sebutan untuk weapon, lacking LANTIRN pods untuk F-16 pada saat itu.disediakan forward air control team dari Batalyon Telemark, kontribusi Angkatan Darat Norwegia untuk NATO's Immediate Reaction Forces (IRF).


Operational Service

Allied Force
Grazzanise AB, Italy, 1999

Selama operasi 'Allied Force' pada tahun 1999 Norwegia berpartisipasi dengan sejumlah F-16 yang ditempatkan di Grazzanise AFB di Italia, bersama-sama dengan F-16 dari Denmark. F-16 Norwegia, seperti pesawat Denmark, sebagian besar waktu melakukan misi CAP. RnoAF tidak mengirimkan MLU F-16 mereka ke Italia.


Enduring Freedom
Manas AB, Kyrgyzstan, 2002

Pada tahun 2002 pemerintah Norwegia memutuskan untuk mengirimkan F-16 ke Afghanistan untuk mendukung operasi 'Enduring Freedom' Pesawat mereka ditempatkan di AFB Manas di Kirgistan bersama-sama dengan pesawat dari Belanda dan Denmark. Operasi telah diterbangkan dari bulan Oktober 2002 sampai bulan Oktober 2003, walaupun Norwegia memutuskan untuk menarik kembali F-16 mereka lebih awal. Semua negara EPAF, kecuali Belgia, telah terbangbersama-sama dalam operasi ini.


Baltic Republics Air Police
Lithuania, 2004

Dalam pergantian dari Belgia dan Denmark, Norwegia mengirimkan 4 unit F-16 fighter untuk patroli udara dari tiga republik Baltik - Latvia, Lithuania dan Estonia - Dari tanggal 12 Januari hingga 31 Maret 2005, mereka memberikan perlindungan udara atas negara-negara Baltik dan dilengkapi oleh F-16 Belanda.


Unified Protector
Libya, 2011

Bersama dengan sejumlah NATO dan negara-negara Liga Arab, F-16 Norwegia mengambil bagian dalam operasi yang diarahkan PBB untuk melindungi penduduk sipil Libya. Operasi berlangsung sampai bulan Oktober tahun 2011, namun Norwegia telah menarik kontingen mereka pada bulan Agustus.




14. Oman
Al Quwwat al Jawwiya al Sultanat Oman
Royal Air Force of Oman – RAFO


Introduction

Royal Air Force Oman memesan 12 unit F-16C / D Blok 50 menjadi pelanggan F-16 yang ke 23 di seluruh dunia dan yang ke 5 di Arab.


Inventory.

Peace A'sama A'safiya

Pada tanggal 4 oktober 2010, Defense Security Cooperation Agency diberitahu Congress of a possible Foreign Military Sale F-16C/D fighter dan weapon yang terkait. Equipment dan teknikal dan logistik support ke Oman. Pemerintah Oman ingin membeli 12 unit F-16C / D Block 50, perkiraan biaya total adalah $1.1 B, jika semua opsi diambil.

Pada bulan Mei 2002, Kesultanan Oman menandatangani kesepakatan dengan pemerintah AS untuk membeli 12 unit Lanjutan F-16 Block 50 dalam program Peace A'sama A'safiya (Clear Skies) Foreign Military Sales (FMS) Perjanjian tersebut mencakup 8 unit single-seat F-16C dan 4 unit two-seat F-16D didukung oleh mesin General Electric F110-GE-129.

F-16D RAFO blok 50 # 801terlihat selama penerbangan resmi pertama di Fort Worth.

Pada tanggal 4 Agustus 2005, Royal Air Force Oman menerima F-16 pertama di Lockheed's Fort Worth facilities.F-16 pertama Oman adalah two-seat F-16D model dan telah diterima oleh pemerintah AS (sebagai agen untuk Oman dalam proses FMS) pada tanggal 19 Juli 2005, satu bulan lebih cepat dari jadwal, single-seat F-16C version terbang pertama kalinya pada bulan agustus 2005, dan diterima pada bulan September. Dua unit pesawat ini diangkut ke Oman pada bulan Oktober 2005 untuk mendukung perayaan Hari Nasional ke-35 pada tanggal 18 November. Sisa pesawat akan diangkut ke Oman selama tahun 2006.


Follow on buy

Pada tanggal 3 Agustus 2010,pesanan baru untuk 18 unit F-16 diumumkan. Negosiasi final kontrak harus berakhir sebelum pesanan ini mendapat lampu hijau.




Modifications and Armament

Engines and Avionics
Pesawat dikirimkan ke Oman dibawah kesepakatan FMS yang akan dilengkapi dengan General Electric F110-GE-129 engines dan AN/APG-68(V)XM radars.termasuk juga 14 SNIPER pod dengan Terrain Following Radar. Hal ini berarti bahwa F-16 ini memilikii paket hardware yang paling kuat yang tersedia saat ini. Berita terbaru adalah bahwa SNIPER pods akan digantikan dengan 7 advanced PANTERA pods.


Armament

Kesepakatan itu juga termasuk paket weapon yang komprehensif, yang terdiri dari : 50 AIM-120C AMRAAM missiles, 10 AMRAAM training missiles, 100 AIM-9M-8/9 Sidewinder missiles, 10 Sidewinder training missiles, 80 AGM-65D/G Maverick missiles, 10 Maverick training missiles, 20 AGM-84D Harpoon Anti-ship missiles, 100 Enhanced GBU-10 and 100 Enhanced GBU-12 500 lb laser guided bombs, 50 GBU-31(v)3/B JDAM's, 50 CBU-97/105 sensor fuzed weapons, 50,000 20mm high explosive projectiles, 50,000 20mm training projectiles, 300 MK-82 500 lb general purpose bombs, 200 MK-83 1,000 lb general purpose bombs, 20,000 RR-170 self-protection chaff and 20,000 MJU-7B self-protection flares.



15. Pakistan
Pakistan Fiza'ya
Pakistan Air Force – PAF


Introduction

Pakistan telah memesan 111 unit F-16 A/B Dari jumlah tersebut, 71 unit diembargo oleh AS karena program senjata nuklir Pakistan. 28 unit sebenarnya telah dibangun, tapi diterbangkan langsung ke AMARC, di Davis-Monthan AFB untuk penyimpanan/storage.

Selama bertahun-tahun, berbagai rencana yang dikandung untuk 28 unit pesawat ini, Pakistan ingin mendapatkan 28 unit pesawat ini atau biaya dikembalikan, US menawarkan ke berbagai negara, tapi tidak ada yang tertarik, akhirnya US Navy dan USAF masuk ke dalam layanan ini sebagai aggressor aircraft.

PAF F-16A block 15 #84705 memamerkan skema kamuflase khas pakistan.
Setelah membantu Pakistan dalam perang melawan teror, AS mengangkat embargo. Pada tahun 2005, Pakistan meminta 24 unit F-16 C/D Block 50/52 (dengan opsi 55 unit tambahan) akhirnya pesanan untuk 18 unit pesawat F-16 ditempatkan dengan opsi 18 unit tambahan.


Inventory

Peace Gate I

Pada bulan Desember 1981, pemerintah Pakistan menandatangani surat perjanjian untuk pembelian hingga 40 unit F-16A / B (28 F-16A dan 12 F-16B) untuk Pakistan Fiza'ya (Pakistan Air Force, or PAF). Kesepakatan itu akan dibagi ke dalam dua batch, batch pertama 6 unit pesawat sedangkan batch kedua 34 unit pesawat.Pesawat pertama diterima di Fort Worth pada bulan Oktober 1982, dan F-16 pertama, diterbangkan oleh pemimpin skuadron Shahid Javed, mendarat di Pangkalan Udara Pakistan di Sargodha pada tanggal 15 Januari 1983 sebagai bagian dari package of 6 'Peace Gate I' aircraft (2 A's and 4 B's).

Pakistan F-16A # 82702 di atas sungai Indus, dekat Attock. Perhatikan F-16 PAF dengan skema warna.

Peace Gate II

34 unit sisanya dikirimkan melalui program Peace Gate II.F-16 A/B pakistan semuanya Block 15, versi yang terakhir dari produksi F-16 A/B, dan didukung oleh Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan. Semua 40 unit pesawat yang melalui 'Peace Gate I & II' telah dikirimkan antara tahun 1983 dan 1987. Pada tahun 1997, pesanan 8 unit dari Peace Gate I & II telah dihapuskan dalam berbagai kecelakaan, maka 32 unit lainnya tetap dalam pelayanan dan meskipun diembargo, yang disebabkan oleh Pakistan-specific Pressler Amendment yang sepenuhnya didukung oleh kontrak komersial.

F-16 telah ditunjukkan serial numbers USAF untuk tujuan penyimpanan catatan.dan membawa tiga digit serial number PAF pada hidung pesawat tersebut. F-16 A dengan urutan 701 sedangkan F-16 B dengan urutan 601. Awalan digit sebelumnya adalah angka2 tahun pengiriman pesawat ini. Falcons PAF memiliki skema warna yang sedikit diubah, dengan area abu-abu gelap yang meliputi sebagian besar sayap dan bagian belakang dari tail planes horisontal dan membawa toned-down tanda : bendera nasional (biasanya bulan dan bintang putih di green field) pada tail dan roundelspada permukaan sayap atas.


Peace Gate III

Tujuh tahun setelah urutan pertama, pada bulan Desember 1988, Pakistan memesan tambahan 11unit F-16A / B Blok 15 OCU (Operational Capability Upgrade) (6 Alpha dan 5 Bravo model) di bawah program Peace Gate III. Pesawat ini dibeli sebagai pengganti atrisi dan disetor penuh, tetapi masih menunggu pengiriman di Gurun Arizona. Alasan untuk ini adalah bahwa Pakistan terlibat dalam kontroversi dengan Amerika Serikat lebih dari kemampuan senjata nuklirnya yang dicurigai. Informasi intelijen mencapai otoritas AS, menunjukkan bahwa Pakistan sedang aktif bekerja dengan bom nuklir, telah menerima desain untuk sebuah bom dari China, pemicu nuklir telah diuji dan secara aktif memproduksi senjata-grade uranium. Selanjutnya F-16 A skuadron 9 dan 11 di Sargodha AB diduga telah dimodifikasi untuk membawa dan mengirimkan senjata nuklir Pakistan. Selain itu,Pakistan tetap menolak untuk menandatangani Perjanjian Nuclear Non-Proliferation Treaty.

Akhirnya sesuai dengan Pressler amendment to the Foreign Assistance Act (amandemen Undang-Undang Pressler Bantuan Luar Negeri) yang melarang bantuan militer kepada negara manapun yang memiliki bahan peledak nuklir, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan pada tanggal 6 Oktober 1990 pengiriman senjata kepakistan telah diembargo, dan 11 unit pesawat lainnya yang dibawah program Peace Gate III akhirnya disimpan/ stored di AMARC (Aircraft Maintenance and Regeneration Center) di Davis-MonthanAFB, Arizona, juga dikenal sebagai ‘’ the Boneyard’’ Disana pesawat-pesawat tersebut dimasukkan kedalam ‘'Flyable Hold' selama 5 tahun. Selama waktu tersebut 85% sistem bahan bakar masing-masing pesawat tersebut diawetkan dengan JP-9, dan mesin-mesin pesawat tersebut dijalankan sekali dalam 45 hari. Hal ini mengakibatkan sesuatu yang aneh bahwa sebagian besar pesawat mereka sekarang memiliki mesin yang lebih mempunyai waktu/hour daripada waktu di udara, yang terakhir ini hanya 6 jam. Low air-time figure, ditambah fakta bahwa pesawat ini adalah pesawat yang paling modern F-16A / B adalah alasan utama mengapa negara-negara tertarik pada second-hand F-16 airframes Pakistan.


Peace Gate IV

Pada bulan September 1989, pakistan mengumumkan perencanaan untuk mengakuisisi 60 unit lebih F-16 A/B, kontrak telah ditandatangani pada tahun yang sama di bawah program Peace Gate IV Foreign Military Sales. Pengiriman 60 unit F-16 sebesar $1.4 B atau sekitar $23 M perunitnya. Pada bulan Maret 1994, 11 unitpesawat ini telah dibangun dan langsung diterbangkan ke padang gurun Sonora di mana mereka bergabung dengan 11unit pesawat Peace Gate III dalam penyimpanan.Pesawat enam lainnya disimpan sampai akhir tahun 1994, sehingga total 17 unit pesawat (7 F-16A dan F-16B 10) pesanan Peace Gate IV sekarang disimpan, stop-work order mempengaruhi 43 unit pesawat sisa kontrak Peace Gate IV.

Amendement Brown kemudian meringankan pembatasan atas ekspor senjata ke Pakistan, namun secara khusus mengecualikan F-16 dari rilis ini. Pakistan sudah membayar $685 M untuk kontrak 28 unit pesawat F-16 yang pertama (11 Peace Gate III dan 17 Peace Gate IV) dan bersikeras agar pesanan pesawat dikirimkan atau biaya yang telah dikeluarkan dikirim kembali.


The saga of the embargoed F-16

Pada bulan Maret 1996, 9 unit pesawat telah keluar keluar produksi dari pesanan pakistan yang akan dijual ke indonesia. Namun indonesia membatalkan pesanan ini pada tanggal 2 juni 1997, masalah yang tak terduga pada kesapakatan F-16 ini dengan indonesia membuat masalah yang lebih besar kepada pemerintahan Clinton,sehubungan dengan Pakistan dan Indonesia. Presiden Clinton telah berjanji ke Perdana Menteri Pakistan, Ibu Benazir Bhutto, bahwa uang yang dibayarkan untuk F-16 oleh Islamabad akan diganti jika peralatan tidak dapat dikirimkan. Dalam rangka mencoba berdamai dengan pemerintah islamabad washington akan mengembalikan dana tersebut. Pemerintahan Clinton pergi untuk melihat apakah pesawat bisa dijual ke negara ketiga dan yang tertarik membelinya antara lain Republic of China.

Salah satu F-16 milik AU Pakistan yang di simpan di Pangkalan Angkatan Udara Davis-Monthan. Airframe ini dipilih untuk inspeksi lebih dekat oleh RNZAF sebagai pertimbangan dalam rangka pembelian F-16 milik PAF.

Pada akhir tahun 1997, dengan kemungkinan menemukan pembeli mendekati nol, maka diputuskan untuk mengambil F-16 PAF out of flyable hold and into the Boneyard, airframes ditawarkan kepada angkatan udara Filipina, dalam pandangan rencana modernisasi. Namun, kurangnya dana menghalangi kesepakatan ini juga.

Pada bulan Mei 1998, desas-desus menyatakan bahwa 28 unit F-16A / B AF Pakistan disimpan di AMARC yang mungkin bisa disumbangkan ke Air Force of the Federation of Bosnia dan Herzegovina, sebagai bagian dari program 'Train and Equip' yang dipimpin US.dan Pakistan telah mengambil bagian dalam program ini (training Bosnian Army Anti-tank missile teams), ini adalah solusi yang bisa memuaskan kedua belah pihak dalam sengketa panjang ini. Sekali lagi, ini terbukti tidak layak.

Setelah peledakan 5 perangkat nuklir india pada bulan Mei 1998, di daerah terpencil dekat perbatasan dengan Pakistan, Washington khawatir bahwa hal ini mungkin akan meningkatkan sengketa perbatasan lama antara Pakistan dan India pada krisis. Dalam rangka menjaga Pakistan dari menanggapi tantangan ini, presiden AS Bill Clinton menyatakan bahwa 28 unit F-16 pakistan yang disimpan akan diserahkan semua dalam 1 atau 2 batch. Namun, tekanan internal pada pemerintah terbukti kuat dan tak lama setelah demonstrasi India, Pakistan menanggapi dengan meledakkan jumlah yang tidak diketahui dari perangkat nuklir mereka.

Akhirnya, pada tanggl 1 Desember 1998, Pemerintah Selandia Baru mengumumkan bahwa mereka akan lease-buy/menyewa-membeli 28 unit F-16 pakistan yang disimpan di AMARC. Tiga hari kemudian, Amerika Serikat mengatakan mereka berharap kesepakatan 'awal dan adil' tentang bagaimana untuk mengkompensasi Islamabad tentang pembelian yang dibatalkan, Presiden Clinton menjelaskan kepada Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif akan upaya AS untuk mengkompensasi Pakistan sebesar $658 M yang harus dibayar untuk 28 unit F-16. Para pejabat Amerika mengatakan Amerika Serikat telah membayar $ 157 M kepada Islamabad. mengumpulkan dana dengan menjual komponen pesawat ke negara lain. Selandia Baru setuju membayar $105 M selama 10 tahun untuk menyewa fighter ini. menyediakan dana tambahan yang dapat digunakan untuk mengembalikannya ke pakistan.

Pada akhir tahun 1998, Amerika Serikat mengumumkan akan membayar $ 326.9 M ke pakistan dengan bentuk tunai dan $140 M sebagai kompensasi kepada pakistan untuk menyelesaikan sengketa selama delapan tahun. $140 M mencakup sekitar $ 60 M dalam gandum putih AS dan pakistan akan menerima selama tahun fiskal AS saat ini, yang dimulai pada tanggal 1 Oktober. Sisa $80 M sisa kompensasi akan dinegoisasikan oleh kedua belah pihak. Masalah F-16 telah membuat pakistan menjadi pusing karena harus membayar jutaan dollar untuk pesawat ini dan harus membayar hutang luar negrinya sebesar $32 B yang disebabkan oleh sanksi dan suspensi Dana Moneter Internasional program (International Monetary Fund programs.)

Pada tahun 1999 pemerintah Selandia Baru yang baru terpilih memulai reorganisasi besar-besaran pada angkatan bersenjatanya. Salah satu unsur utama dalam hal ini adalah pembatalan kontrak F-16 dan pembubaran kekuatan tempur. Dan Pesawat akan tinggal di boneyard untuk sedikit lebih lama.

Pada tahun 2002, AS akhirnya berhenti mencoba untuk menjual pesawat dan memutuskan untuk menetapkan pesawat-pesawat tersebut ke Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS untuk mengisi Aggressor role. Setelah runtuhnya (T)F-16N aggressor force. Angakatan laut amerika serikat tidak memiliki pesawat high-performance aggressor, karena pesawat Pakistan yang diembargo memiliki low airframe life maka secara ideal cocok untuk demanding aggressor role, dan 28 unit pesawat tersebut akan dibagi rata ke USAF dan US Navy dan akan mengambil peran penting dalam pelatihan DACT pasukan AS.

Setelah serangan 9 / 11 pemerintah Pakistan menjadi sekutu utama AS dalam perang melawan teror. Diputuskan untuk mengirimkan ulang pesawat mereka ke Pakistan. Sampai sekarang, hanya setengah dari pesawat-pesawat tersebut telah terkirim, dan sisanya akan dikirimkan kembali.


Peace Drive

Pada tanggal 25 Maret 2005, Pemerintah AS mengumumkan bahwa mereka telah menyetujui permintaan Pakistan untuk menjual F-16 baru, awalnya pakistan meminta tambahan 24 unit F-16 C/D Block 50/52 (dengan opsi sebanyak 55 unit) Tidak banyak rincian yang diketahui pada saat ini tentang kemungkinan penjualan pesawat ke Pakistan. Kesepakatan itu diharapkan akan selesai pada bulan September atau Oktober tahun 2005, sebagai bagian dari package, juga disepakati armada A/B model akan diupgrade melalui MLU.

Sebagai tanda itikad baik, AS setuju untuk memasok Pakistan dengan sejumlah F-16 yang mana dibangun di bawah program Peace Gate III/IV.

Akhirnya, setelah serangkaian panjang negosiasi, pada tanggal 30 September 2006 ditandatangani kontrak antara pemerintah Pakistan dan AS untuk akuisisi 18 unitF-16C / D Blok 52 baru, dan opsi penambahan 18 unit lebih. Dalam kesepakatan ulang pengiriman 26 unit yang tersisa dalam Peace Gate III/IV juga disetujui untuk diupgrade melalui standarisasi program MLU.

Pesanan ini diberikan melalui FMS. Meskipun telah memiliki program Peace Gate. PAF memutuskan untuk memilih nama lain karena Peace Gate terlalu banyak menimbulkan negative commotion



Modifications and Armament

Modifications

Angkatan udara pekistan saat ini tekah memiliki F-16 A/B Block 15 yang memiliki upgraded APG-66 radar melalui MLU (Mid-life Update) radar technology.Keuntungan utama nya adalah kemampuan untuk menggunakan AIM-7 Sparrow dan AIM-120AMRAAM missile, selain itu radar mampu tight formations of aircraft dan memiliki 15% -20% meningkatkan jangkauan lebih dari model sebelumnya. Semua F-16 sebelumnya dibangun dengan standar OCU dan telah menerima Falcon UP structural modification package.


Armament

F-16A Pakistan dengan pod Laser designator Thompson Atlis II di chin station 5L dan dua Paveway LGBs

Saat ini F-16 pakistan biasanya membawa two all-aspect AIM-9L Sidewinders pada wing tip rails bersama dengan sepasang AIM-9P-4 di underwing racks terluar. Sedangkan Matra Magic 2 (French counterpart of the Sidewinder) dapat dibawa juga. Pesawat-pesawat tersebut memiliki strike role yang penting yang mampu mengirimkan Paveway laser-guided bombs. F-16 pakistan juga mampu menembakan French AS-30 laser guided missile. ALQ-131 pod dibawa sebagai perlindungan ECM.


Atlis laser designation pod

Pakistan telah mengakuisisi French-built Thompson-CSF ATLIS laser designation pod untuk digunakan pada F-16 mereka. ATLIS pod pertama kali digunakan pada F-16 pakistan pada bulan januari 1986, sehingga membuat F-16 pesawat non-Eropa pertama yang memenuhi syarat untuk pod ini.


Operational Service

Pakistan adalah negara kedua (setelah Israel) yang menggunakan F-16 dalam pertempuran. Invasi Soviet ke Afghanistan pada tahun 1979 dalam mendukung pemerintah pro-Soviet di Kabul, yang menjadi sulit karena ditekan oleh pasukan pemberontak mujahidin, menandai dimulainya pendudukan selama satu dekade.Pemberontak mujahidin terus mengusik kekuatan militer pendudukan Soviet serta kekuatan rezim Afghanistan. Perang segera tumpah ke negara tetangga Pakistan, dengan gerombolan yang melarikan diri ke kamp-kamp pengungsi di sepanjang perbatasan dalam upaya untuk melarikan diri dari konflik tersebut. Selain itu, banyak dari para pemberontak yang digunakan Pakistan sebagai tempat perlindungan untuk melaksanakan forays ke Afghanistan, dan aliran senjata yang dipasok AS dibawa ke Afghanistan dari daerah pakistan yang berada didekat perbatasan. Hal ini pasti mengakibatkan pelanggaran perbatasan oleh pesawat Soviet dan Afghanistan berusaha untuk melarang operasi ini.


Sebuah  F-16A, #84704, milik Pakistan menjatuhkan 12 bom Mk.82 selama operasi pemboman tukik ketinggian menengah.

Antara bulan Mei 1986 dan November 1988, F-16 PAF telah menembak jatuh setidaknya 8 penyusup dari Afghanistan. Tiga pertama ini (satu Su-22, salah satu kemungkinan Su-22, dan satu An-26) ditembak jatuh oleh dua pilot dari Skuadron No 9. Skuadron Pilot No. 14 menghancurkan 5 penyusup yang tersisa (dua Su-22, MiG-23S dua, dan satu Su-25). Sebagian besar kill dilakukan oleh Sidewinder AIM-9, tapi setidaknya satu (satu-Su 22) dihancurkan oleh tembakan cannon. Penerbangan Letnan Khalid Mamood dikreditkan dengan tiga kill. Setidaknya satu unit F-16 hilang dalam pertempuran, yang satu ini dalam sebuah pertemuan antara 2 unit F-16 dan 6 unit pesawat Angkatan Udara Afghanistan pada tanggal 29 April 1987. Namun, kehilangan F-16 tampaknya telah menjadi 'own goal', yang telah terpukul oleh tembakan Sidewinder oleh F-16 yang lain. Pilot F-16 Letnan Penerbang Shahid Khan Sikandar) keluar dengan aman.



16. Poland
Polskie Siły Powietrzne
Polish Air Force – PolAF


Introduction


Polandia memesan F-16 C/D Block 52 sebanyak total 48 unit sehingga menjadi mantan anggota pertama WarPac yang mengoperasikan F-16 fighting falcon.

Dilengkapi dengan pod JHMCS dan Sniper, dan dipersenjatai dengan AIM-9X, AIM-120C, JSOW dan JDAM, F-16 Polandia akan menjadi F-16 tercanggih milik NATO

Block 52 canggih pertama untuk AU polandia terlihat di lini perakitan. Uji terbangnya direncanakan pada April 2006.


History

Pada tahun 1997, pemerintah Polandia mulai mencari-cari untuk menggantikan armada mig-21 dan su-22 yang sudah mengalami penuaan, persyaratannya adalah untuk 100 multi-purpose fighters, untuk menggantikan armada exisitng dari 350 unit pesawat tempur. Mengingat aspirasi Polandia untuk bergabung dengan NATO, Polandia berpaling ke Barat dan tidak menjadi konsumen soviet lagi. Angkatan Udara sedang mempertimbangkan Mirage 2000, Gripen dan F-16 dan demonstrasi dinikmati dari semua tiga pesawat. Tahun 1997 Salon du Bourget melihat pertempuran sengit yang terjadi antara para wakil perusahaan bersaing atas pemesanan. Kebanyakan Eastern European potential customers-termasuk polandia berharap peningkatan kerja transfer teknologi,dan pesanan akan membayar kompensasi bagi fighter baru mereka, Namun, karena hal ini terbukti tidak menjadi kasus, pesanan ditunda selama beberapa tahun.

Pada bulan November 1998, British Aerospace, bersama dengan Swedia Saab dan Daimler-Benz Aerospace Jerman, menawarkan untuk memodernisasi armada polandia dari pesawat yang dibuat soviet mig-29, dan untuk melatih personelnya. Dengan cara ini, consurtium pada akhirnya berharap dapat mengamankan kesepakatan bagi fighter baru untuknya yaitu gripen. Produsen Barat lainnya juga menganggap memenangkan kesepakatan transisi sebagai kunci untuk akhirnya mengamankan kontrak yang menguntungkan untuk memasok pesawat tempur baru.

Pada bulan Desember 1998, Kementerian Pertahanan Polandia meminta kabinet untuk menyetujui sewa hingga 36 unit pesawat tempur dari Amerika Serikat.Amerika Serikat menawarkan untuk menyetujui F-16 second-hand mereka atau F-18 jet tempur ke Polandia selama lima tahun dengan biaya sekitar $ 100 M, termasuk pelatihan untuk pilot dan ground crews. Pada bulan Februari 1999, Pemerintah Polandia mengumumkan keputusan tentang syarat-syarat jet tempur barat ill-equipped air force, dalam beberapa bulan, dan nantinya ia yang akan menjadi pilihan menjadi pemasok.

PolAF F-16C block 52 #4040 terbang diatas texas selama penerbangan pertama pada14 Maret 2006.

Inventory

Peace Sky

Akhirnya pemerintah Polandia memutuskan tanggal 27 Desember 2002 untuk membeli pesawat tempur daripada sewa baru, dan pemenang tender tempur Polandia itu adalah Lockheed-Martin, dan memesan 48 unit F-116 C/D Block 52 yang akan dikirimkan (36 C dan 12 D). Unsur utama dalam kesepakatan ini adalah kesepakatan offset antara Lockheed-Martin dan pemerintah Polandia, yang melihat biaya hingga $9 B kembali ke perekonomian Polandia. Proyek-proyek besar termasuk rencana oleh General Motors untuk memperluas pabrik di Gliwice, Polandia, dan janji oleh Motorola untuk berinvestasi dalam sistem komunikasi state-of-the-art untuk layanan publik polandia.

Kontrak tersebut ditandatangani pada tanggal 18 April, 2003 sebesar $3,5 B.Sebuah kontrak yang sangat besar dari negara bekas block soviet sejak akhir Perang Dingin. Kontrak pembelian juga mencakup spare engines, rudal dan bom serta rincian teknis dan persyaratan pelatihan untuk pilot Polandia. Pesawat ini akan dibangun di Fort Worth, Texas, dan pengiriman dimulai pada tahun 2006.

Penerbangan F-16 pertama Polandia (# 4040) telah berhasil diselesaikan di Ft Worth pada tanggal 14 Maret 2006. Pilot untuk penerbangan pertama adalahPaulus Hattendorf.

PolAF F-16C block 52 #4040 terbang diatas texas selama penerbangan pertama pada14 Maret 2006.



Modifications and Armament

Engines and Avionics

Pesawat F-16 Block 52 baru polandia akan didukung oleh Pratt and Whitney F-100-229 engine. Pesawat ini akan dilengkapi dengan avionik terbaru yang tersedia, termasuk APG-68 (V) 9 radar yang memberikan high-resolution ground imaging, enabling day/night all-weather, presisi pengiriman weapon dan ALQ-211(V)4 electronic warfare suite yang akan memastikan bahwa pesawat memiliki sistem penanggulangan tiada bandingnya.

Selain itu pesawat multi-role fighter yang dikembangkan untuk Polandia dilengkapi dengan sistem helmet-mounted cueing yang digunakan untuk amunisi presisi terpandu dan off-boresight missiles serta untuk menigkatkan pilot situational awareness. Pesawat ini juga dirancang fully interoperable dengan misi NATO and European Union.


Armament

Selain kesepakatan tersebut mencakup juga major weapons package, termasuk AIM-9X Sidewinder dan AIM-120C AMRAAM missile,serta GPS-guided Joint Stand-Off Weapon (JSOW-C) dan Joint Direct Attack Munition (JDAM) bombs untuk digunakan di siang / malam dan kondisi cuaca buruk. Pesawat sepenuhnya kompatibeldengan penargetan berteknologi tinggi (high-tech targeting) terbaru dan sensor navigasi (navigation sensors) dan platform pengintaian (reconnaissance platforms.).


Sniper Extended Range pod

F-16 Polandia akan dilengkapi dengan Sniper Extended Range pod, yang merupakan advanced targeting pod yang juga dirancang dengan infrared pointer, laser, day TV, forward looking infrared, laser spot tracker dan advanced algorithms. Pod memberikan kinerja pelacakan yang handal dan unggul.


Goodrich DB-110 airborne reconnaissance system

Departemen pertahanan nasional polandia (Poland's Ministry of National Defense) telah memilih Goodrich Corporation's DB-110 airborne reconnaissance system untuk digunakan pada F-16 fighter mereka.

DB-110 digital, real-time, tactical reconnaissance system memungkinkan pilot untuk mengambil gambar pada malam hari dengan menggunakan electro-optical sensor technology. Kamera ditutup dalam 19ft (6m) pod mounted diibawah samping pesawat. Gambar disimpan secara real time ke ground station. Kamera itu sendiri dapat dengan mudah diarahkan melalui unit penerima yang terletak dalam pod untuk memusatkan perhatian pada daerah tertentu.

Gambar/Image dapat dilihat pada cockpit video display/layar video yang berada di kokpit pilot. memungkinkan navigator untuk memverifikasi target dan conduct tasks seperti penilaian kerusakan pada pertempuran, F-16 fighter Polandia adalah yang pertama dengan menggunakan tekhnologi ini.



17. Portugal
Força Aérea Portuguesa
Portuguese Air Force – PoAF


Introduction

Portuguese Air Force (Força Aérea Portuguesa) mengoperasikan F-16 A/B Block 15 sebanyak total 45 unit, dan 20 unit telah melalui upgrade melalui standar MLU.


Inventory

Peace Atlantis I

Portuguese Air Force memasuki era F-16 ketika program Peace Atlantis I dimulai dengan penandatanganan Letter of Acceptance pada bulan Agustus 1990. Perjanjian tersebut adalah sebagian pembayaran untuk penggunaan (oleh AS) dari Lajes AB di Azores.Ini termasuk tidak hanya 20 unit F-16 Blok 15OCU (17 A dan 3 B) dengan mesin PW, tapi juga dukungan logistic awal : suku cadang, peralatan pendukung, buku, pilot dan perawatan instruksi personil, partisipasi PAF dalam F-16 Technical Coordination Group, F-16 Aircraft Structural Integrity Program, F100 International Engine Management, EWSIP-Electronic Warfare Systems Improvement Program, dll.

F-16 A PoAF # 15117, dipersenjatai dengan empat AIM-9 Sidewinders, pengisian bahan bakardari kapal tanker USAF

Pesawat baru tersebut dibangun Block 15 OCU dengan standar MLU yang membuat pesawat tersebut identik dengan F-16 ADF (Air Defense Fighter). Bahkan, satu-satunya hal yang membedakan pesawat tersebut dengan pesawat ADF adalah AIFF (lanjutan IFF) antena atau bird-slicers di depan kanopi. Akibatnya, pesawat tersebut memiliki identification light di port side of the nose, dan fitur bulges lebih besar pada tail fin root which house the actuators untuk tail planes (aktuator direlokasi untuk membuat ruang untuk instalasi peralatan dan HF antena). B-model kurangnya antena HF dengan demikian buges lebih besar sebagai konsekuensinya.Konfigurasi pesawat hampir standar tapi menerima beberapa perbaikan, terutama Ring Laser Gyro, Wide-Angle HUD, Pratt & Whitney F100-PW-220E engine dengan DEEC dan ketentuan untuk penggunaan AIM-120 AMRAAM.

Upacara penerimaan untuk 2 pesawat pertama diadakan pada tanggal 18 Februari 1994, dan pesawat 4 unit pertama dikirim pada tanggal 18 Juli di tahun yang sama.


Peace Atlantis II

Pada tahun 1996 AF portugis meminta 25 unit USAF-surplus F-16A/B (re-engined) bersama dengan 5 cadangan F100-PW-220E engine. Biaya yang diperkirakan adalah $ 258 M. second-hand Block 15 digunakan dalam ground attack role (menggantikan 50 A 7P) dimulai pada tahun 1998.

Pada tanggal 20 November 1997, Pentagon mengumumkan telah menyediakan 25 unit F-16A/B Block 15 Falcon untuk di transfer ke portugal dari USAF (ex-ANG or stored D.M. examples) pesawat tersebut yang akan ditransfer ke portugal gratis (Portugal harus membawa pesawat tersebut ke eropa baik dengan pembongkaran atau diterbangkan oleh pilot-PoAF). Dan tampaknya Portugal juga harus membeli mesin baru dan suku cadang.

Pada tanggal 14 November 1998, pemerintah Portugal memberikan FAP the go-ahead untuk akuisisi tersebut. Kontrak ini meliputi 25 unit (21 A dan 4 B) yang akan memiliki engine kembali ( mungkin dengan F100-PW-220E). Dari jumlah tersebut hanya 20 unit (16A dan 4 B) akan digunakan untuk membentuk skuadron serangan. Lima unit airframes lainnya akan digunakan sebagai spare sources/sumber cadangan. Menurut surat kabar 20 unit pesawat akan ditingkatkan untuk day & night all-weather operations. Total nilai dari kesepakatan adalah 45,000 juta PTE (sekitar $268 M) yang meliputi pengiriman pesawat,modification kits, logistics support dan training dan akan dibayar hingga tahun 2004. Portugal menandatangani Letter of Offer and Acceptance (LoA) pada tanggal 30 November 1998, untuk 25 unit pesawat F-16 dan upgrade kits untuk memoderenisasi angkatan udara.

Sebelumnya US Air Force inventory sedang dikirim ke sekutu NATO sebagai Excess Defense Articles dibawah Southern Regional Amendment untuk Ekspor Senjata dan Control Act. Pesawat-pesawat tersebut saat ini berada dalam penyimpanan/ storage amerika dan akan dikirim ke Portugal dan semua modifikasi akan dilakukan di negara. Selama tahun 2001, karyawan LMTAS memodifikasi dua pesawat pertama dalam program Lead-the-Fleet dengan Portuguese Air Force technicians observing. LMTAS dan USAF akan membantu Angkatan Udara Portugis dalam membangun kemampuan modifikasi besar pada F-16, dan personil Portugis telah memodifikasi 18 unit yang tersisa, modification line mampu menangani hingga 4 unit pesawat sekaligus. Pesawat terakhir dijadwalkan selesai pada tahun 2003.

Portugal menjadi negara ke15 yang menggunakan F-16 untuk penambahan jumlah pesawat, dan akan menjadi negara yang keempat untuk mengoperasikan ex F-16A/B USAF, sehingga total unit F-16 yang akan di transfer adalah 93 unit pesawat F-16, Portugal juga menjadi negara yang kelima untuk masuk dalam program MLU.




Modifications and Armament

Mid-life Update

Pada tanggal 12 November 1997, Pentagon mengumumkan bahwa Portugal akan meng-upgrade 20 unit F-16 Block 15 melalui standar MLU dari program Peace Atlantis I dengan modification kits yang dibeli dari Lockheed Martin Tactical Aircraft Systems di Fort Worth. Kesepakatan inibernilai sekitar $ 185 M kata pentagon. Penjualan itu juga akan mencakup peralatan pendukung (support equipment), pelatihan (training), bantuan teknis dan suku cadang (technical assistance and spare parts). Kit dirakit sebagian besar dengan peralatan yang diperoleh dari produsen lain di Amerika Serikat dan Eropa, tapi Lockheed Martin yang mengelola program dari Fort Worth.

F-16 MLU PoAF pertama # 15133, dalam terbang lintas tingkat rendah

MLU kits diproduksi oleh mitra industri Eropa pada program F-16 dan akumulasi dan dikirim dari SABCA, Belgia. Saat ini, pesawat sedang dimodifikasi dan diterjunkan di keempat negara yang berpatisipasi. Belgia baru-baru ini menanda tangani LOA untuk 18 unit tambahan aircraft kits. Program Portugal akan meningkatkan jumlah MLU aircraft kits seluruh dunia sampai 380 unit.

Perubahan MLU meliputi : Block 50 F-16C/D-style cockpit dengan color multifunction displays, modular mission computer, APG-66(V)2 radar update, digital terrain system, Global Positioning System, advanced identification friend or foe, Improved Data Modem data link, electronic warfare management system, plus ketentuan untuk reconnaissance pod dan helmet-mounted display. Modifikasi ini akan mengakibatkan Angkatan Udara Portugis memiliki konfigurasi yang umum dengan Eropa barat lainnya, NATO F-16A / B pengguna yang berpartisipasi dalam program MLU. Belgia, Denmark, Belanda dan Norwegia.


Modifications

Peace Atlantis II F-16 akan diperbaharui dan menerima tiga modifikasi utama: Falcon UP structural upgrade,F100-PW-220E engine upgrade dan F-16A/B Mid-Life update (MLU) avionics and cockpit upgrade.

Upgrade lain pesawat Peace Atlantis II termasuk night identification light, dedicated electronic warfare MUX bus, additional chaff/flare dispensers, plus ketentuan sistem untuk internal missile warning dan flight analyzer/air combat evaluation/voice dan data recorder.


Armament and Stores

F-16 portugis mungkin akan mempertahankan kemampuan sparrow mereka, contohnya mereka masih membawa Sparrow launcher rails. AIM-7F models. Main air-to-air armament of the PoAF F-16 consists of AIM-9 Sidewinder missiles. PoAF telah membelisejumlah rudal AGM-65 Maverick.

Portuguese three-ship F-16 formation,termasuk F-16 A # 15106 dipersenjatai dengan AGM-65 maverich missile

Bersama dengan pengenalan MLU upgrade, FAP juga memperkenalkan sistem senjata baru untuk digunakan pada upgrade ini,AF portugal sedang mempertimbangkan AIM-120 AMRAAM, JDAM, JSOW, dan Rafael Litening II pods. AIM-120 missiles sudah dibeli pada tahun 2004.


F-16 FAP telah menggunakan AN/ALQ-131 ECM pods, awalnya dibeli untuk A-7P force.


Operational Service

Aviano AB, Italy, 1999

Selama operasi 'Allied Force' pada tahun 1999,PoAF mengerahkan 3 unit F-16 ke Aviano AB di Italia, dimana mereka bergabung dengan F-16 AS, karena pesawat belum di update ke standar MLU, misi yang dilakukan adalah CAP dan dikawal pesawat ofensif diatas wilayah Yugoslavia.



18. Republic of China / Taiwan
Chung-kuo Kung Chun
Republic of China Air Force – RoCAF


Introduction

Republic of China Air Force mengoperasikan F-16 A/B sebanyak 150 unit block 20 yang pada dasarnya identik dengan pesawat MLU. Taiwan berencana untuk mengakuisisi 66 unit F-16 C /D Blok 52 dalam waktu dekat, terutama untuk melawan ancaman dari daratan Cina.


Inventory

Peace Fenghuang

Pada bulan november 1992 perwakilan dari Taiwan dan Amerika Serikat menanda tangani kesepakatan untuk penjualan 150 unit F-16A / B (120 A-model dan 30 B-model) ke Taiwan di bawah program Peace Fenghuang Foreign Military Sales, pesanan yang besar (yang bertepatan dengan pesanan untuk 60 unitpesawat Mirage 2000-5, serta rencana production run 130 IDF (Indigenous Defensive Fighter) pesawat IDF itu dimaksudkan untuk menggantikan armada F-104 dan F-5E taiwan yang sudah mengalami penuaan. Program air force inventory modernization cocok dalam program general military modernization, didorong oleh langkah Cina untuk meng-upgrade hardware militernya.

Dua F-16A Blok 20 pada misi pelatihan selama di gurun Arizona, terlihat dari kursi belakang F-16B Blok 20. Pesawat ini dioperasikan oleh 'Gamblers' 21st FS di Luke AFB atas nama Republik Cina dan digunakan untuk melatih pilot RoCAF

F-16 taiwan adalah F-16 Block 15 OCU yang dibangun melalui spesifikasi MLU (tapi dilambangkan dengan F-16 Blok 20 namun). Pada awal tahun 1997, 5 unitpesawat sudah dibangun dan secara resmi diserahkan ke Taiwan. Total biaya dari kesepakatan adalah $6 B.

20 unit F-16 Block 20 berada di US untuk di pengujian dan tujuan pelatihan : 18 unit ada di Luke AFB sebagai Gamblers FS 21, dan 2 unit lainnya(1 F-16A dan 1F-16B), awalnya dikirim ke 416 FLTS di Edwards AFB selama tes penerbangan block 20 dan tes software MMC. Kemudian 2 unit itu dikirim ke Fort Worth untuk menindak lanjuti tes software dan upgrade. Pada tahun 2006,14 unit pesawat tetap berada di Luke dengan 2 Edwards vipers yang masih ada.


Block 52 Order

Pada bulan Mei 2006, Taiwan mengumumkan tertarik untuk membeli 66 unit pesawat F-16 tambahan. Pilihan pertama Taipei adalah untuk membeli F-35 Joint Strike Fighters - yang akan datang ke layanan publik dalam beberapa tahun ke depan - tetapi AS telah menolak untuk menawarkan pada Taiwan fighter terbarunya.Taiwan membeli pesawat F-16 untuk meningkatkan armada udaranya yang sudah mengalami penuaan dan mencounter kekuatan china yang sedang tumbuh.

Pada tanggal 17 Juli 2006, Amerika Serikat setuju untuk menjual 66 unit jet tempur F-16 ke Taiwan, dalam sebuah kesepakatan senilai lebih dari US $ 3 B, penjualan senjata terbesar amerika serikat oleh taiwan sejak tahun 2001. Pada tahun itu juga AS menyediakan 8 unit kapal selam bertenaga diesel untuk taiwan 12 kapal selam P-3C hunting aircraft dan PAC-3 Patriot missiles.

Pesawat-pesawat tersebut ditujukan untuk menggantikan armada udara taiwan yang mengalami penuaan, 60 unit F-5 yang dalam pelayanan selama hampir 30 tahun. Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari Taiwanese Relations Act, namun masih ada perubahan dalam kebijakan AS. Pada tahun 1992, Amerika Serikat setuju untuk menjual ke Taiwan 150 unit F-16A/B less sophisticated, tapi menolak untuk memberikan F-16C/D yang memiliki jangkauan yang lebih panjang dan kemampuan serangan darat yang kuat.

F-16 dan Mirage-2000 fighter taiwan akan tetap dalam palayanan armada udara mereka selama 15-20 tahun kedepan, tetapi karena penonaktifan penuaan secara bertahap F-5 maka angkatan udara taiwan hanya mempunyai 40 unit fighter dalam tahun 2015. Oleh karena itu mereka perlu untuk membangun sebuah armada tempur baru untuk mengisi kekosongan. Bahkan jika Taiwan memutuskan untuk membeli pesawat tahun ini, Taiwan tidak akan melihat pesawat sampai tahun 2011-2012 karena paperwork dan production time line.



Modifications and Armament

Modifications

Block 20 memiliki kemampuan Westinghouse AN/APG-66(V) 3 fire-control radar (157 ordered), AN/APX-111 IFF, ALR-56M advanced radar warning receivers, dan AN/ALE-47 chaff/flare dispensers.

Kokpit mirip dengan pesawat Block 50 dengan compatibility night vision goggle, modular mission computer, GPS, Honeywell LCD color displays, dan wide-angle HUD.Semua F-16 ROCAF didukung oleh F100-PW-220 turbofan engines. Perlu dicatat bahwa F-16 dapat mempertahankan kemampuan terbang mereka dalam pengisian bahan bakar.


Armament and Stores

F-16 RoCAF dilengkapi dengan AIM-7M Sparrow, AIM-9M Sidewinder P4 & dan AGM-65 Maverick missiles.batch baru 120 AIM-120C-5 dan juga 54 AGM-84 Harpoon missiles yang dibeli dari Amerika Serikat untuk melengkapi stok senjata yang ada.

Alih-alih Westinghouse AN/ALQ-131 ECM pods, taiwan memilih Raytheon AN/ALQ-184(V)7 ECM pods (80 dipesan) kontrak meliputi 80 pods, ditambah support equipment/peralatan pendukung dan spare, merupakan penjualan asing pertama untuk AN/ALQ-184 dan mempunyai nilai kontrak lebih $100 M.

F-16A blok 20 ROCAF dilengkapi dengan AIM-9 Sidewinder, AIM-7 Sparrow, ditambah Sharpshooter targeting dan Pathfinder navigation pods


Telah ada sejak lama dengan US dalam memodifikasi F-16 seperti mengintegrasikan local TC2 BVR missile dan HF2 anti shipping missile, sejauh ini AS tidak mengijinkan modifikasi dalam hal tersebut.

Beberapa F-16 taiwan telah dilengkapi dengan AN/VDS-5 reconnaissance pod.

Ditahun berikutnya sejumlah senjata baru yang diperoleh dan yang lebih tua diupgrade. Pada tahun 2003 batch berikutnya dari 182 AIM-9M-2 missiles dipesan, Pada tahun 2007 pesanan tambahan untuk AIM-120C-7 telah ditempatkan bersama dengan 235 AGM-65G. Tidak lama kemudian diikuti oleh pesanan untuk 60 AGM-84L missile dan paket upgrade untuk meng-upgrade stok Harpoons dari AGM-84G ke L-standards.


Sharpshooter/Pathfinder Targeting & Navigation pods

Pada tanggal 3 Juni 1998, Departemen Pertahanan AS mengumumkan bahwa mereka bersedia menyediakan kepada taiwan 28 Pathfinder/Sharpshooter navigation dan targeting pods, dengan kesepakatan sekitar $160 M. Lockheed Martin Electronics & Missiles of Orlando, Florida akan memberikan bantuan 28 harpshooter targeting pods dan 28 Pathfinder navigation pods untuk integrasi armada F-16 Taiwan dibulan oltober 2001. Taiwan akan menjadi negara yang ke 10 dalam pelangganan Lockheed Martin's LANTIRN night vision system untuk pesawat fighter. Pathfinder dan Sharpshooter adalah turunan dari sistem LANTIRN, yang mana Lockheed Martin pada awalnya mengembangkannya untuk F-15E dan F-16C / D fighter Angkatan Udara AS .Pada tanggal 7 Juni 2000 pesanan kedua ditempatkan untuk 39 pods dari kedua sistem Sharpshooter dan Pathfinder.



19. Singapore
Republic of Singapore Air Force – RSAF


Introduction

Republic of Singapore Air Force mengoperasikan 70 unit F-16 fighting falcon, 62 unitnya adalah pesawat yang canggih yaitu F-16 C/D Block 52, pesawat ini dilengkapi dengan state-of the-art armament, termasuk AIM-120 AMRAAM dan (mungkin) Python Israel 4 missile terhubung dengan DASH-3 Helmet Mounted Sight.


Inventory

Peace Carvin I

Pada bulan Januari 1985, pemerintah Singapura memesan 8 unit F-16/79 fighter dan mengambil opsi tambahan 12 unit. F-16/79 adalah versi cost-reduced Fighting Falcon, didukung oleh General Electric J79 turbojet dan bukan turbofan F100. Pada pertengahan-1985, menjadi jelas bahwa versi F100-powered akan disediakan, dan singapura merubah pesanannya menjadi 8 unit F-16 A/B Block 15 OCU (four single-seaters and four two-seaters), pembelian ini dibawah program Peace Carvin I Foreign Military Sales dan dimaksudkan untuk menggantikan pesawat Hawker Hunters yang masih berada dalam layanan angkata udara singapura karena telah mengalami penuaan.

Singapura menerima pengiriman F-16 Pratt & Whitney F100-PW-220 (a two seater), pada tanggal 20 Februari 1988, meskipun semua pesawat Block 15 tetapi mereka telah memperkuatnya menjadi airframe Block 30, mesin-mesin yang pertama dikirim ke Lukas AFB dimana pilot RSAF mereka dilatih, Singapur juga menyewa 9 unit F-16 A yang sebelumnya digunakan oleh tim demonstrasi penerbanganThunderbirds 1993-1996, untuk pelatihan di Luke AFB, Arizona. F-16 yang pertama tidak dipindahkan ke Singapura sampai bulan Januari 1990. Tak lama setelah pengiriman pada tahun 1990, dua dari F-16 A terlibat mid-air collision ( tabrakan udara) di atas Laut Cina Selatan. Salah satu F-16 hilang sementara yang lain berhasil kembali ke pangkalan. Anehnya, pada tahun 1994, ketika pesanan Peace Carvin III diumumkan, terungkap bahwa F-16A / B akan dijual karena yang akan dioperasionalkan adalah C/D, dan alasan tersebut dikutip oleh Dr Yeo adalah sangat mahal mengoperasikan A/B dan C/D bersama-sama (yang merupakan argumen yang agak aneh karena RSAF masih memiliki F-5S / T dan TA/A- 4SU yang masih dalam pelayanan RSAF). Sebuah solusi yang lebih logis akan meng-upgrade F-16A / B melalui program MLU yang akan membawa standar pesawat kurang lebih sama dengan C/D airframes, sampai sekarang A/B masih dalam pelayanan RSAF meskipun C/D telah banyak dikirimkan. Pada bulan Desember 2004, kontrak ditanda tangani antara pemerintah Singapura danThailand untuk akuisisi sisa 7 unit A/B airframe oleh RTAF.

RSAF four-ship dari program original Peace Carvin I di atas langit Singapura. Alpha881 # dan # 882 dan # 885 Bravo dan # 887.


Peace Carvin II

pada tahun 1993, Dr Yeo Hong Ning, Menteri Pertahanan, mengumumkan rencana untuk 11 unit F-16C / D (5 F-16C dan 6 F-16D) Selain itu, ia mengumumkan rencana untuk dua mesin tambahan untuk mengganti yang hilang selama di Laut Cina Selatan. Ketika negara tetangga Malaysia memesan pesawat MiG-29N dan F/A-18D, Singapura buru-buru membuka kembali kompetisi dalam pesawat fighter untuk memasukkan F/A-18C/D tersebut. Pilot RSAF dikirim ke China Lake untuk mengevaluasi Hornet. Namun, Departemen Pertahanan terjebak dengan F-16C / D, tetapi pesanan meningkat menjadi 18 unit Block 52 engine(8 C dan 10 D). Pada tahun 1994 keputusan harga telah dilaporkan (Lockheed Martin yang ditawarkan dengan harga USD $ 23 M) 18 unit Block 52, mesin akan didukung oleh mesin F100-PW-229 dan akan memiliki versi down rated of the LANTIRN pod system (mungkin seperti kombinasi Pathfinder / Sharpshooter), memiliki kemampuan untuk membawa AIM-120 AMRAAM dan AGM-88 Harm. Pesawat pertama dari 18 unit ini adalah D model dengan seri # 638,diterima oleh KepalaAngkatan Pertahanan Letjen Bey SooKhiangon pada tanggal 19 April 1998, pada saat cerimonial rollout di Lockheed's Fort Worth facilities. Pengiriman dijadwalkan akan berjalan pada bulan Desember.Pada tanggal 14 agustus 1998 pertama dari tiga Delta dan single Charlie tiba di tengah AB.

F-16D Block 52 # 638 RSAF adalah pesawat pertama disampaikan di bawah kesepakatan Peace Carvin II.Semua F-16D dalam kesepakatan ini memiliki dorsal spine.

Lease and Buy

Pada akhir pelatihan F-16A di Luke, selusin USAF Blok 52 itu telah disewakan ke lokasi base yang sama untuk training. Namun USAF tidak bisa menerima sewa tersebut dikarenakan mereka membutuhkan mesin di tempat lain, sebaliknya kesepakatan ditertima dengan Lockheed Martin untuk menyewa selusin new-built F-16C/D Block 52. (4 Charlie-model dan 8 Delta-model) dengan opsi untuk membelinya kemudian. Pesawat itu disewa untuk jangka waktu 2,5 tahun, dengan perkiraan biaya sebesar USD $ 12.3 M. Pada tahun 1997, di bawah program Peace Carvin III kapabilitas RSAF telah diperluas di AS, termasuk perpanjangan kontrak pelatihan di Lukas sampai 2018. Karena sangat tidak mungkin untuk menyewa pesawat LMTAS dalam jangka waktu yang lama, RSAF memutuskan untuk membeli 12 unit pesawat. Fakta bahwa Block 52 inventory LMTAS officially lists berada disingapura sebanyak 42 unit pesawat (12 +18 +12) tampaknya menunjuk ke arah yang sama. Karena fakta bahwa pesawat ini dibeli langsung dari LMTAS, mereka tidak di bawah prosedur FMS normal dan karena itu tidak memiliki program nomor Peace Carvin yang ditugaskan pada mereka.


Peace Carvin III

Pada tanggal 29 Oktober 1997, pemerintah Republik Singapura mengumumkan akan membeli lagi 12 unit F-16C / D Block 52.10 C-model dan 2 D-model. Pengiriman akan dimulai pada tahun 1999. Pesanan F-16 C/D baru singapur senilai $350 M, mencakup selain 12 unit pesawat support equipment, spare parts, training, mission equipment dan item yang terkait lainnya, rumor mengatakan bahwa itu termsuk opsi 12 unit tambahan, tapi ini tidak pernah terwujud. 12 unit pesawat tambahan akan berbasis di Cannon AFB untuk pelatihan pilot. Pada tanggal19 November 1997, Pentagon mengatakan bahwa Singapura berupaya mencari $287 M untuk F-16 C/D fighter termsuk cannon 20 mm baru, modifikasi dan pemeliharaan, pelatihan, suku cadang dan peralatan pendukung.

F-16D # 96031 RSAF pada saat takeoff. F-16D berbasis di Cannon AFB di New Mexico untuk pelatihan, dioperasikan oleh FTS 428. Perhatikan tailband, versi yang lebih kecil dari RSAF lion roundel in red on a black background.

Peace Carvin IV

Pada tanggal 21 Juli 2000, Singapura mengungkapkan bahwa akan memesan lagi 20 unit F-16. Awalnya tidak jelas apakah pesawat tersebut campuran C-model dan D-model, tetapi akhirnya pemerintah Singapura memutuskan untuk membuat semuanya menjadi D model agar diperbanyak. Sama seperti D-model dari pesawat Peace Carvin III, pesawat ini akan dilengkapi dengan spine yang diperpanjang untuk mengakomodasi extensive ECM-suite. Pengiriman pesawat tersebut akan dimulai pada akhir tahun 2003. Pesawat tersebut adalah varian Block 52 yang akan didukung oleh Pratt & WhitneyF100-229 engine. Semua pesawat akan diterima sebelum akhir tahun 2004.




Modifications and Armament

Dorsal Fairing

10 unit F-16D Block 52 dipesan pada tahun 1994 memiliki dorsal fairing seperti F-16 D israel dan pesawat sole VISTA. Hal ini dikabarkan ke house the SPS-3000 EW suite. Dorsal spine diinstal saat perakitan rutin sementara pesawat ini adalah production line di Fort Worth.


Armament and Helmet Mounted Sight


Rumor mengatakan bahwa israel telah memberikan kepada RSAF dengan batch pertama short-range IR-guided Python 4 missiles. Gambar terakhir menunjukan RSAF vipers terbang dengan DASH-3 HMS integrasi sensor melekat pada kanopi. DASH-3 (atau HMDS lainnya) sangat penting untuk memanfaatkan full potential Python 4 namun kehadiran DASH-3 sensor tidak mengkonfirmasi ketersediaan Python 4 missiles. Python4 bisa ditembakan dengan tanpa HMDS dan DASH yang dapat digunakan untuk slave quite a number of other sensors (FCR, TGP, etc.) untuk pandangan pilot.

F-16D blok 52 RSAF – perhatikan dorsal spine, antena IFF di depan kanopi, dan Helmet Mounted Sight sensor tepat diatas pilot

Singapura telah mengakuisisikan AGM-84 Harpoon anti-ship missile untuk digunakan pada F-16 dan pesawat Fokker 50.

Dalam melihat negara tetangga Malaysia upgrade MiG-29 yang memungkinkan mengintegrasikan AAM R-77 Vympel AR-homing, singapura mengakuisisikan sekitar 100 unit AIM-120 missiles. Permintaan sebelumnya untuk AIM-120 oleh Singapura dan negara-negara lain di wilayah itu ditolak oleh pemerintah AS sampai sistem serupa diperkenalkan di wilayah tersebut. Hal ini dapat dimengerti bahwa AIM-120 misseles hanya di stock di AS dan hanya akan dikirim ke Singapura ketika negara tersebut terancam. Laporan terakhir bahwa AMRAAM missiles telah berada dinegara tersebut.



20. South Korea
Han-guk Kong Goon
Republic of Korea Air Force – RoKAF


Introduction

Republic of Korea Air Force mengoperasikan 180 unit F-16 C/D ,Korea Selatan memiliki kedua Blok 30 dan blok 52 (locally designated KF-16) dalam inventory mereka dan merupakan negara ke lima F-16 production line.


History


Republik Korea, atau Korea Selatan seperti yang sering disebut, menghadapi bersenjata berat Korea Utara yang bersenjata sampai 600 unit pesawat jet taktis. Untuk mengatasi ancaman ini, pada awal tahun 1980 Korea Selatan mulai mencari generasi ke 3 fighter untuk memperluas armada pesawat tempur, yang terdiri danterutama dari F-4D / E Phantom dan F-5E Tiger II fighter.


Inventory

Peace Bridge I

Pada bulan Desember 1981, Republik Korea menandatangani surat perjanjian untuk pembelian 36 unit F-16C / D Block 32 fighting falcon dibawah program Peace Bridge I Foreign Military Sales.

A line-up of three ROKAF F-16C Block 32s including F-16C #87-657,siap untuk take off di Chungwon AB

Hal ini membuat Republic of Korea Air Force (ROKAF) menjadi operator pertama dari pihak asing untuk mengoperasikan F-16 C/D fighting falcon. Pesawat ini untuk meningkatkan F-4D / E Phantom dan F-5E TigerII, yang pada waktu itu sebagai pesawat tempur utama dalam melayani ROKAF, program korea dinamai dengan Victory Falcon, pada tahun 1986 oleh Chun Doo Hwan, presiden Republik Korea. Karena masih ada dana tersisa dalam program Peace Bridge I, lebih dariempat F-16D Block 32 dipesan pada bulan Juni 1988.


Peace Bridge II

Dalam program fighter korea lebih serius (sebelumnya dikenal sebagai program FX), F-16 kalah dari F/A-18 Hornet pada awalnya. Pada tanggal 18 Desember 1989, pemerintah Korea mengumumkan bahwa mereka akan mengakuisisi 120 unit example dari F/A-18 tersebut. Keputusan itu sebagian didasarkan pada tawaran offset yang menguntungkan di mana sebagian besar F/A-18 akan diproduksi di Korea. Namun, rencana pembelian 120 unit Hornet oleh Korea mendapatkan jebakan yang dalam teknis pendanaan dan Korea memilih 120 unit lebih F-16 sebagai gantinya. Mereka semua akan diproduksi dengan standar Block 52, dan akan memiliki upgrade avionik dan Pratt & Whitney F100-PW-229 engine.

F-16C Blok 52 # 93-067 ROKAF adalah salah satu pesawat Peace II yang dibangun oleh Samsung Aerospace, dan terlihat di sini membawa 4 rudal Sidewinder.pesawa block 52 telah ditetapkan sebagai 'KF-16'

Secara lokal F-16 akan tetapkan sebagai KF-16. Menurut ketentuan perjanjian, Lockheed Fort Worth akan memproduksi 12 unit pesawat pertama, 36 unit berikutnya akan dikirimkan dalam bentuk kit dan dirakit di Korea Selatan, sedangkan 72 unit terakhir akan dibangun di Korea Selatan oleh Samsung Aerospace. Hal ini membuat Korea Selatan menjadi negara yang ke 5 untuk memproduksi F-16, setelah Amerika Serikat, Belgia, Belanda dan Turki. Subkontraktor utama Daewoo dan Korean Air. Keahlian yang diperoleh dalam program ini akan dimasukkan untuk digunakan dalam program Trainer Experiment Korea. Korea Selatan mengambil pengiriman pertama pesawat ini (LMTAS built-in) pada tanggal 2 Desember 1994.

Pada tanggal 30 Juni 1997,sebuah cerimonial untuk pengiriman pertama local-built KF-16 diadakan di pabrik Samsung Aerospace Sachon di Propinsi Kyungsang. KF-16 terdiri dari lebih dari 349.000 part/bagian yang berbeda.


Peace Bridge III

Pada tanggal 27 Juli 2000, pemerintah Korea memutuskan untuk membeli lagi 20 unit F-16, yang terdiri dari 14 unit C dan 6 unit D, semua versi Blok 52 yang canggih. Pesawat ini juga akan diproduksi secara lokal oleh Korea Aerospace Industries dengan biaya program $ 700 M. Pesawat baru akan disampaikan dalam rentang waktu 2003-2004. Hal ini memungkinkan ROKAF untuk melengkapi skuadron lain dengan pesawat tempur F-16, dalam penggantian dari F-4 atau F-5 fighter yang mengalami penuaan dan masih dalam pelayanan ROKAF.




Modifications and Armament

Armament

Blok 52 engione akan dilengkapi untuk membawa LANTIRN night navigation/targeting pod system dan akan mampu membawa dan menembakan AIM-120 AMRAAM dan AGM-88 HARM anti-radiation missile.

Korea Selatan telah membeli AIM-9 Sidewinder, AIM-120 AMRAAM, AGM-65 Maverick, dan AIM-7 Sparrow missiles untuk daya gempur F-16.

F-16C Blok 32, # 86-591 ROKAF mendarat di Chungwon AB

AN/ALQ-165 Airborne Self-Protection Jammer

Korea Selatan adalah pelanggan internasional pertama yang menggabungkan AN/ALQ-165 Airborne Self-Protection Jammer pada F-16, ASPJ adalah tipe keempat peralatan electronic counter measures yang telah diintegrasikan ke dalam F-16. ASPJ adalah sistem state-of-the-art internal electronic countermeasures yang digunakan untuk mengalahkan atau menurunkan pelacakan oleh sistem ancaman radar dan akan meningkatkan survivabilitasi F-16 dalam pertempuran. Sistem ini dibangun oleh sebuah tim dari Northrop Grumman dan ITT dan saat ini dalam pelayanan dengan beberapa fighter di Angkatan Laut AS, Korps Marinir dan beberapaversi fighter yang serupa untuk customer internasional.

Program moderenisasi untuk menginstal AN/ALQ-165 Airborne Self-Protection Jammer (ASPJ) di F-16 Block 52 ROKAF pada tanggal 26 Februari 1999. Lockheed Martin Tactical Aircraft Systems (LMTAS) mengirimkan F-16 korea yang dimodifikasi dengan AN/ALQ-165 Airborne Self-Protection Jammer (ASPJ). ASPJ counter measures set akan memberikan F-16 ROKAF kuat untuk kemampuan proteksi diri. Pesawat ini juga memiliki ALR-56M radar warning receiver dan ALE-47 chaff/flare dispenser.

Pesawat pertama yang dimodifikasi dikirimkan pada akhir tahun 1994 dan diterbangkan kembali ke Amerika Serikat untuk modifikasi dan pengujian. Pesawat ini telah dimodifikasi di Fort Worth, dan akan menjalani tes di ruang anechoic, dan kemudian akan diangkut ke Edwards Air Force Base, California, selama beberapa bulan pengujian penerbangan.

Sisa dari F-16 yang dijadwalkan untuk upgrade ASPJ yang dimodifikasi di Korea oleh ROKAF pada pertengahan tahun 2000.




Sumber: www.f-16.net
Artikel ini merupakan sumbangan dari Formiler Kaskus, agan Penjarah.
Terima kasih Bro! :)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar