Senin, 02 Januari 2012

USS Yorktown (CV-5)


USS Yorktown (CV-5) 


USS Yorktown (CV-5) (Foto: www.militaryfactory.com)


Nama: USS Yorktown (CV-5) 
Tipe Klasifikasi: Aircraft Carrier 
Kelas Kapal: Kelas-Yorktown 
Negara Asal: Amerika Serikat 
Jumlah Kapal Sekelas: 3 
Operator: Amerika Serikat 
Kapal Sekelas: USS Yorktown (CV-5); USS Enterprise (CV-6); USS Hornet (CV-8) 


USS Yorktown (CV-5) merupakan kapal induk yang ditugaskan oleh AL AS dari 1937 hingga tenggelam saat Battle of Midway pada Juni 1942. Dia dinamai berdasarkan Battle of Yorktown pada 1781 dan merupakan lead ship dari Kelas Yorktown yang didesain setelah pelajaran yang diperoleh dari operasi kapal induk kelas Lexington dan kapal induk yang lebih kecil Ranger. Kapal ini merepresentasikan intisari dari desain kapal induk AS sebelum perang (PD II).



Karir Awal

Yorktown mulai digelar rangkanya pada 21 Mei 1934 di Newport News, Virginia, oleh Newport News Shipbuilding and Drydock Co.; dan diluncurkan pada 4 April 1936. Kapal ini disponsori oleh Eleanor Roosevelt; dan diresmikan penugasannya di Naval Operating Base (NOB), Norfolk, Virginia, pada 30 September 1937, di bawah komando Capt. Ernest D. McWhorter .

Kapal induk ini mengadakan pelatihan di Hampton Roads, Virginia dan di tanjung Virginia hingga Januari 1938, dengan maksud mengadakan kualifikasi untuk air group barunya.

Yorktown berlayar ke Karibia pada 8 Januari 1938 dan tiba di Culebra, Puerto Rico, pada 13 Januari. Selama bulan berikutnya, kapal induk ini melaksanakan tradisi shakedown, berlayar ke Charlotte Amalie, St Thomas, U.S. Virgin Islands; Gonaïves, Haiti;Guantanamo Bay, Cuba, dan Cristóbal, Panama Canal Zone. Kapal ini meninggalkan Colon Bay, Cristobal, pada 1 Maret dan berlayar menuju Hampton Roads, riba pada 6 Maret dan kemudian menuju Norfolk Navy Yard pada hari berikutnya.

Setelah menjalani perbaikan pada awal musim gugur 1938, Yorktown berpindah ke NOB Norfolk pada 17 Oktober dan segera kemudian belayar ke Southern Drill Grounds untuk menjalani pelatihan. Yorktown beroperasi di seaboard timur dari Chesapeake Bay ke Guantanamo Bay, hingga 1939. Sebagai flagship untuk Carrier Division 2, dia berpartisipasi dalam permainan perang pertama - Fleet Problem XX – bersama sister-ship-nya USS Enterprise (CV-6) pada Februari 1939. Skenarionya adalah memerintahkan satu armada untuk mengontrol jalur laut di Karibia dari serangan negara Eropa asing, sementara tetap mempertahankan kekuatan AL untuk melindungi kepentingan vital AS di Pasifik. Manuvernya disaksikan sebagian oleh Presiden Franklin Delano Roosevelt, yang berada di atas cruiser berat USS Houston (CA-30).

Peatihan ini menunjukkan puncak efisiensi baru. Walaupun Yorktown and Enterprise tidak berpengalaman, kedua kapal induk tersebut memberikan konstribusi besar untuk menghadapi masalah pada skenario. Para perencana perang telah belajar mengenai pengoperasian kapal induk dan air group-nya dalam hubungan dengan konvoy pengawal, pertahanan anti-kapal selam dan berbagai pengukuran serangan melawan kapal permukaan dan instalasi pantai. Ringkasnya, mereka bekerja untuk mengembangkan taktik yang akan digunakan dalam peperangan yang sesungguhnya.


Armada Pasifik

Setelah Fleet Problem XX, Yorktown kembali ke Hampton Road sebelum berlayar ke Pasifik pada 20 April 1939. Transit di Panama Canal, seminggu kemudian, Yorktown kemudian segera bergabung dalam operasi reguler rutin dengan Armada Pasifik. Beroperasi di San Diego, California hingga 1940, kapal induk ini berpartisipasi dalam Fleet Problem XXI pada April. Yorktown menjadi salah satu dari enam kapal yang menerima radar baru RCA CXAM pada 1940.

Fleet Problem XXI – pelatihan yang tediri dari dua bagian – terdiri dari beberapa operasi yang akan menjadi ciri peperangan masa depan di Pasifik. Bagian pertama latihan diutamakan dalam pembuatan perencanaan dan perkiraan dalam screening dan scouting; dalam koordinasi dari unit kombatan, dan dalam mempekerjakan armada dan disposisi standar. Bagian kedua terdiri dari pelatihan dalam perlindungan konvoy, perebutan pangkalan besar, dan terakhir penyerangan yang menentukan pada armada musuh. Fleet Joint Air Exercise 114A memandang perlu koordinasi antara AD dan AL dalam pertahanan Kepulauan Hawaii, dan Fleet Exercise 114 membuktikan bahwa pesawat dapat digunakan melakukan penerbangan tinggi dan melacak armada musuh di lautan, sebuah peran signifikan untuk pesawat yang akan diwujudkan ketika perang datang.

Dengan dipertahankannya Armada di perairan Hawaii setelah Fleet Problem XXI, Yorktown beroperasi di perairan pasifik, di pantai barat AS dan perairan Hawaii hingga musim semi berikutnya, ketika kesuksesan U-Boat Jerman yang mengancam perkapalan Inggris di Atlantik, yang membutuhkan kekuatan AL AS. Sehingga, untuk memperkuat U.S. Atlantic Fleet, AL AS memindahkan kekuatan substansial dari Pasifik, termasuk Yorktown, Battleship Division Three (Battleship kelas Mexico Baru), tiga cruiser ringan dan 12 destoyer.


Patroli Netralitas

Yorktown meninggalkan Pearl Harbor pada 20 April 1941 bersama konvoy yang terdiri dari destroyer USS Warrington (DD-383), USS Somers (DD-381), dan USS Jouett (DD-396); menuju tenggara, transit di Panama Canal pada 6-7 Mei, tiba di Bermuda pada 12 Mei. Dari waktu tersebut hingga AS mendeklarasikan perang (PD II), Yorkton melakukan empat patroli di Atlantik, dari Newfoundland hingga Bermuda dan mencatatkan jarak tempuh total 17,642 mil (28,392 km) selama melakuakn Patroli Netralitas.

Walaupun Adolf Hitler telah melarah kapal selamnya untuk menyerang kapal-kapal AS, orang-orang di atas kapal AS tidak menyadari kebijakan ini dan beroperasi di Atlantik.

Pada 28 Oktober, ketika Yorktown, battleship USS New Mexico (BB-40), dan kapal perang Amerika lain yang sedang berkonvoy, sebuah destroyer mendapati kontak adanya kapal selam dan menjatuhkan bom laut, sedangkan konvoy sendiri membuat perputaran darurat ke kanan. Pada siang hari, perbaikan mesin pada salah satu kapal, Empire Pintail, membuat kecepatan konvoy berkurang menjadi 11 knot.

Pada malam harinya, kapal Amerika mendapati sinyal radio Jerman yang kuat, yang mengindikasikan kemungkinan adanya kapal selam di sekitar konvoy yang melaporkan pada grup-nya. Rear Admiral H. Kent Hewitt, yang mengkomandoi kapal-kapal kawal, mengirimkan destroyer untuk menyapu daerah di belakang konvoy untuk menghancurkan U-boat atau setidaknya menjauhkannya dari konvoy.

Pada hari selanjutnya, Yorktown dan USS Savannah (CL-42) mengisi bahan bakar destroyer pengawal mereka, dan selesai dilakukan pada senja hari. Pada 30 Oktober, Yorktown sedang bersiap untuk mengisi bahan bakar tiga destroyer, ketika kapal kawal lain membuat kontak suara. Konvoy kemudian membuat 10 pembelokan darurat, sementara USS Morris (DD-417) dan USS Anderson (DD-411) menjatuhkan bom laut, dan USS Hughes (DD-410) membantu dalam meningkatkan kontak. Anderson kemudian menjatuhkan dua bom laut, dan setelahnya muncul "considerable oil with slick spreading but no wreckage."

Di tempat lain, pada 30 Oktober dan lebih dari sebulan sebelum penyerangan Jepang ke Pearl Harbor, U-552 menembakkan torpedo ke destroyer USS Reuben James (DD-245),menenggelamkannya dengan kehilangan nyawa yang besar. Ini adalah kehilangan kapal perang AS pertama di PD II.

Setelah tugas Patroli Netralitas lainnya pada November, Yorktown kembali ke Norfolk pada 2 Desember dan berada di sini pada saat penyerangan Jepang di Pearl Harbor.



Perang Dunia II

Berita awal dari Pasifik merupakan berita yang suram, Armada Pasifik dikalahkan. Dengan garis perempuran yang lumpuh, kapal induk AS yang tidak tersentuh merupakan hal yang sangat penting. Pada 7 Desember, hanya tiga kapal induk yang berada di Pasifik: USS Enterprise (CV-6), USS Lexington (CV-2), dan USS Saratoga (CV-3). USS Ranger (CV-4), USS Wasp (CV-7), dan USS Hornet (CV-8) yang baru saja ditugaskan tetap berada di Atlantik,Yorktown meninggalkan Norfolk pada 16 Desember 1941 menuju Pasifik, dan persenjataan sekundernya dilengkapi dengan senapan 20 mm Oerlikon baru. Kapal ini tiba di San Diego pada 30 Desember 1941 dan kemudian menjadi flagship untuk Gugus Tugas 17 (TF 17) yang baru dibentuk di bawa komando Rear Admiral Frank Jack Fletcher.

Misi pertama kapal induk ini di teater baru adalah untuk mengawal konvoy yang mengangkut bala bantuan Marinir ke American Samoa. Meninggalkan San Diego pada 6 Januari 1942, Yorktown dan kapal kawalnya melindungi pergerakan marinir ke Tutuila dan Pago Pago untuk menambah garnisun yang sudah ada di sini.

Setelah melindungi pergerakan pasukan dengan aman, Yorktown, bersama dengan sister shipnya Enterprise, meninggalkan perairan Samoa pada 25 Januari. Enam hari kemudian, TF8 (yang dibentuk dengan Enterprise), dan TF17 (yang dibentuk dengan Yorktown) berpencar. TF8 menuju kepulaian Marshall dan TF 17 ke Gilbert, masing-masing untuk menjadi bagian pada penyerangan pertama AS di PD II, penyerbuan Marshalls-Gilberts.

Pada 05:17, Yorktown – yang dikawal USS Louisville (CA-28) dan USS St. Louis (CL-49) serta empat destroyer, meluncurkan 11 Douglas TBD-1 Devastator dan 17 Douglas SBD-3 Dauntless, di bawah komadno Comdr. Curtis W. Smiley. Pesawat-pesawat tersebut menyerang instalasi pantai dan perkapalan Jepang yang mereka temui di Jaluit. Akan tetapi badai-petir ganas mengganggu misi dan tujuh pesawat hilang. Pesawat Yorktown lain menyerang instalasi dan kapal Jepang di atol Makin dan Mili.

Penyerangan Gilbert oleh TF17 memberikan kejutan karena Pasukan AS tidak menemukan kapal permukaan musuh. Sebuah pesawat patroli amfibi bermesin-empat Kawanishi H6K "Mavis" berusaha menyerang destroyer AS. Persenjataan anti-pesawat ditembakkan dari destroyer dan menjauhkan penyerang sebelum menyebabkan kerusakan.

Kemudian, "Mavis" lain atau mungkin pesawat yang sama dengan yang sebelumnya datang dengan jarak 15,000 yard (14,000 m) dari Yorktown. Kapal induk tidak menembakkan persenjataan anti-pesawatnya agar tidak mengganggu fighter combat air patrol (CAP). Kemudian, "Mavis" dikejar oleh dua F4F Wildcat, hilang di belakang awan. Lima menit kemudian, pesawat musuh jatuh dari awan dan menghantam laut.

Walaupun TF17 diharapkan untuk melakukan penyerangan kedua di Jaluit, dan akhirnya serangan kedua dibatalkan karena hijan badai besar. Sehingga kemudian armada Yorktown mundur dari area tersebut.

Admiral Chester Nimitz kemudian menganggap bahwa penyerbuan ke Marshalls-Gilberts sebagai "well conceived, well planned, and brilliantly executed." Hasil yang diperoleh oleh TF8 dan 17 patut diperhatikan, karena gugus tugas dipaksa untuk membuat serangannya secara buta (diam-diam), karena kurangnya data intelijen di pulau-pulau yang dikuasai oleh Jepang.

Yorktown kemudian berlabuh di Pearl Harbor untuk replenishment sebelum kembali melaut pada 14 Februari, menuju Laut Coral. Pada 6 Maret, Yorktown bergabung dengan TF11 yang dibentuk dengan Lexington dan di bawah komando Vice Admiral Wilson Brown, dan menuju Rabaul dan Gasmata untuk menyerang perkapalan Jepang dan untuk melindungi pendaratan pasukan Sekutu di Nouméa, New Caledonia. Akan tetapi, ketika dua kapal induk yang dikawal dengan kekuatan besar yang terdiri dari delapan heavy cruiser (teramasuk kapal perang Australia HMAS Australia dan HMAS Canberra) dan 14 destroyer, berlayar menuju New Guinea, japang terus melakukan serangannya menuju Australia dengan pendaratan pada 7 maret ke Huon Gulf, di area Salamaua-Lae di ujung timur New Guinea.

Berita mengenai operasi Jepang membuat Admiral Brown merubah tujuan serangan TF11 dari Rabaul ke sektor Salamaua-Lae. Pada pagi hari 10 maret 1942, kapal induk AS meluncurkan pesawatnya dari Teluk Papua. Lexington menerbangkan air groupnya pada 07:49, dan 21 menit kemudian Yorkown menyusul. Dengan dipilihnya teluk sebagai titik peluncuran pesawat, ini berarti pesawat harus tebang sekitar 125 mil (200km) melintasi pegunungan Owen. Taktik ini membuat TF berada dalam posisi aman dan memastikan sebagai kejutan.

Pada serangan tersebut pesawat SBD milik Lexington dari Scouting Squadron 2 (VS-2) melakukan pengeboman tukik terhadap kapal-kapal Jepang di Lae pada 09:22. Skuadron torpedo dan bomber (VT-2 dan VB-2) menyerang kapal di Salamua pada 09:38. Fighter milik Lexington (VF-2) dibagi menjadi empat grup serang: satu menyerang Lae dan lainnya Salamua. Pesawat milik Yorktown mengikuti pesawat-pesawat Lexington. VB-5 dan VT-5 menyerang kapal-kapal di Salamua pada 09:50, sementara VS-5 berperan sebagai tambahan menyerang pantai di Lae. Fighter dari VF-42 terbang dan melakukan CAP di atas Salamua hingga disimpulkan tidak ada ancaman udara dari musuh, kemudian mulai menyerang pelabuhan.

Setelah melaksanakan misinya, pesawat-pesawat AS kembali ke kapal induknya, dan dari 104 pesawat yang diluncurkan, hanya satu yang tertembak jatuh oleh persenjataan anti-pesawat Jepang. Penyerbuan ke Salamaua dan Lae merupakan penyerangan pertama oleh banyak pilot dari kedua kapal induk, akan tetapi akurasi torpedo dan bom masih inferior. Operasi ini memberikan pengalaman yang tak ternilai sehingga membuat mereka dapat melakukan yang terbaik pada Battle of the Coral Sea dan the Battle of Midway.

TF11 mundur dengan kecepatan 20 knots (23 mpj; 37 km/j) ke tenggara hingga malam ketika kapal berbelok ke arah timut dengan kecepatan 15 knots (17 mpj; 28 km/j) dan bergabung dengan Task Group 11.7 (TG11.7), yang terdiri dari tiga heavy cruisers (USS Chicago, HMAS Australia, dan HMAS Canberra) dan empat destroyer di bawah komando Rear Admiral John Crace dari Australia, yang memberikan perlindungan bagi kapal induk ketika menuju New Guinea.

Yorktown melanjutkan patrolinya di area Laut Coral, tetap berada di lautan hingga April, di luar jangkauan pesawat berlandasan darat milik Jepang dan selalu siap untuk melakukan operasi penyerangan ketika ada kesempatan. Setelah penyerbuan Lae-Salamaua, situasi di Pasifik Selatan terlihat stabil sementara, dan Yorktown bersama TF17 berlabuh di Tongatabu, di kepulauan Tonga, untuk perawatan karena sudah terus melaut sejak meninggalkan Pearl Harbor pada 14 Februari.

Jepang bergerak cepat. Bagi Admiral Nimitz, terdapat indikasi bahwa Japang akan melakukan serangan udara ke Port Moresby pada minggu pertama Mei. Yorktown kemudian meninggalkan Tongatapu pada 27 April 1942, menuju Laut Coral. TF11 – yang sekarang dikomandoi oleh Rear Admiral Aubrey W. Fitch, meninggalkan Pearl Harbor untuk bergabung dengan TF 17 yang dikomandoi Fletcher dan tiba di dekat grup Yorktown, barat daya Kepulauan New Hebrides pada 1 Mei.


Battle of the Coral Sea

Pada 15:17 siang berikutnya, dua Dauntless dari VS-5 melihat sebuah kapal selam Jepang sedang berada di permukaan. Tiga Devastators lepas landas dari Yorktown, melesat ke TKP, dan melakukan penyerangan yang hanya sukses memaksa kapal selam tersebut untuk menyelam.

Pada 3 Mei pagi, TF11 dan TF17 terbagi dengan jarak 100 mil (160 km), melakukan operasi pengisian bahan bakar. Sebelum tengah malam, Fletcher menerima berita dari pesawat berlandasan darat milik Australia bahwa kapal angkut Jepang sedang menurunkan pasukan dan peralatan di Tulagi di kepulauan Solomon. Tiba setelah pihak Australia melakukan evakuasi, Jepang mendarat untuk membangun pangkalan pesawat amfibi untuk mendukung pergerakan mereka ke selatan.

Yorktown kemudian merubah arah ke utada dengan kecepatan 27 knot (31 mpj; 50 km/j). Pada 4 Mei dini hari, Yorktown sudah berada di jarak serang ke instalasi pantai Jepang baru dan meluncurkan serangan pertamanya pada 07:01. 18 F4F-3 dari VF-42, 12 TBD dari VT-5, dan 28 SBD dari VS dan BY-5. Air group milik Yorktown melakukan tiga serangan berturut-turut ke kapal dan instalasi pantai musuh di Tulagi dan Gavutu di pantai selatan Pulau Florida di Solomon. Menhabiskan 22 torpedo dan 76 bom 1000 pound dalam tiga serangan, pesawat milik Yorktown menenggelamkan destroyer Kikuzuki, tiga kapal ranjau dan empat tongkang. Sebagai tambahan Air Group 5 berhasil menghancurkan lima kapal amfibi musuh, kesemuanya dengan kehilangan dua F4F (pilot selamat) dan satu TBD (awak hilang).

Sementara itu, di hari yang sama, TF 44, sebuah kekuatan cruiser-destroyer di bawah komando Rear Admiral Crace (RN), bergabung dengan TF 11 Lexington, yang melengkapi komposisi kekuatan Sekutu di Battle of the Coral Sea yang krusial.

Di tempat lain, di utara, sebelas kapal angkut sarat pasukan, yang dikawal oleh destroyer dan dilindungi oleh kapal induk kecil Shoho, empat heavy cruiser dan sebuah destroyer, berlayar menuju Port Moresby. Sebagai tambahan, gugus tugas jepang lain yang dibentuk dari dua veteran Pearl Harbor, kapal induk Shōkaku dan Zuikaku, yang dikawal oleh dua heavy cruiser dan enam destroyer – memberikan perlindungan udara tambahan.

Pada 6 Mei pagi, Fletcher menggabungkan semua kekuatan Sekutu di bawah komando taktisnya sebagai TF17. Pada tanggal 7 dini hari, mengirimkan Crace, dengan cruiser dan destroyer di bawah komandonya, menuju kepulauan Louisiade untuk mencegat musuh yang berusaha menuju Port Moresby.

Sementara Fletcher bergerak ke utara dengan dua kapal induk dan pengawalnya, pesawat pencari Jepang menemukan kapal minyak USS Neosho (AO-23) dan pengawalnya USS Sims (DD-409) dan salah mengidentifikasi kapal minyak tersebut sebagai kapal induk. Dua gelombang pesawat Jepang –pertama bomber level tinggi dan kedua bomber tukik- menyerang kedua kapal tersebut. Sims, yang baterai anti-pesawatnya mengalami kerusakan, mendapatkan tiga hantaman bom langsung dan segera tenggelam dengan kehilangan nyawa yang besar. Neosho lebih beruntung, walaupun terkana tujuh hantaman dan delapan sedikit-meleset, kapal ini tetap mengapung hingga pada tanggal 11, ketika awak sudah diselamatkan semua oleh USS Henley (DD-391), dan akhirnya kapal ini ditenggelamkan oleh kapal destroyer penyelamat.

Sementara itu, pesawat-pesawat milik Yorktown dan Lexington menemukan Shōhō dan menenggelamkannya. Pada siang harinya, Shōkaku dan Zuikaku – yang masih belum ditemukan oleh pasukan Fletcher – meluncurkan 27 bomber dan pesawat torpedo untuk mencari kapal AS. Penerbangan mereka cukup lancar hingga berpapasan dengan fighter dari Yorktown dan Lexington. Jepang kehilangan 9 pesawat pada saat ini.

Menjelang senja, tiga pesawat Jepang melakukan kesalahan luar biasa dengan menganggap Yorktown sebagai kapal induk mereka dan berusaha mendarat. Meriam kapal menembaki mereka dan akhirnya mereka melarikan diri. 20 menit kemudian, tiga pesawat Jepang kembali melakukan kesalahan serupa, dan salah satu dari mereka tertembak jatuh.

Akan tetapi, perang jauh dari kata akhir. Pada pagi selanjutnya, 8 Mei, pesawat pencari milik Lexington melihat armada kapal induk Takeo Takagi –termasuk Zuikaku dan Shōkaku. Pesawat-pesawat Yorktown membuat 2 hantaman bom langsung terhadap Shōkaku, merusak dek penerbangannya dan membuatnya tidak dapat meluncurkan maupun mendaratka pesawat, sebagai tambahan, bom menyebabkan ledakan pada tempat penyimpanan gasolin dan menghancurkan tempat perbaikan mesin. Pesawat Dauntless Lexington juga membuat hantaman langsung. Serangan tersbut menewaskan 108 pelaut Jepang dan melukai lebih dari 40 orang.

Ketika pesawat AS sedang menyerang kapal induk Jepang, Yorktown dan Lexington waspada dengan adanya pesan yang mengindikasikan bahwa Jepang mengetahui posisi mereka dan bersiap untuk menyerang.

"Kates" meluncurkan torpedo dan dua diantaranya menghantam haluan Lexington. Bomber tukik “Val” menambah kerusakan dengan tiga bom. Lexington mulai miring, dengan tiga ruangan teknisi terbanjiri. Kabakaran mulai terjadi di dek bawah, dan elevator kapal induk tidak dapat bekerja.

Sementara itu Yorktown memiliki masalahnya sendiri. Di manuveri oleh Captain Elliott Buckmaster, kapal induk menghindari delapan torpedo. Kemudian datang serangan dari “Val”, kapal induk berhasil menghindari semua kecuali satu bom yang menembus dek penerbangan dan meledakkan dek bawah, menewaskan dan melukai 66 orang.

Pengendali kerusakan Lexington mampu mengendalikan api, dan kapal masih bisa melakukan operasi udara walaupun mengalami kerusakan. Pertempuran udara sendiri berakhir sebelum tanggal 8 siang. Dalam satu jam, kapal sudah tidak miring. Akan tetapi sebuah ledakan memantik uap gasolin yang kemudian menyebabkan kebakaran dan merobek bagian dalam kapal. Lexington ditinggalkan pada 17:07, dan kemudian ditenggelamkan oleh USS Phelps.

Jepang telah menang secara taktis, menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pasukan Sekutu, tetapi Sekutu yang berhasil menghambat invasi Jepang ke Pasifik Selatan dan Barat Daya, memperoleh kemenangan secara strategis. Yorktown memperoleh kemenangannya dengan harga yang setimpal. Kapal induk ini mengalami kerusakan yang cukup parah, hingga ahli memperkirakan diperlukan waktu tiga bulan untuk perbaikan. Akan tetapi, hanya ada sedikit waktu untuk perbaikan karena intelejen Sekutu, khususnya unit kriptografi Pearl Harbor, mendapatkan cukup informasi dari memecahkan kode-kode dari pesan AL Jepang, yang sekarang memprioritaskan operasinya di ujung kepulauan Hawaii bagian barat laut, dua pulau di sebuah atol koral rendah yang disebut sebagai Midway.


Battle of Midway

Dipersenjatai dengan intelejennya, Admiral Nimitz mulai secara metodis merencanakan pertahanan di Midway, mendatangkan semua kekuatan yang mungkin mulai dari pasukan, pesawat dan meriam ke Midway. Sebagai tambahan dia mengumpulkan kekuatan ALnya. Sebagai bagian persiapan tersebut, dia memanggil TF16, Enterprise dan Hornet (CV-8), ke Pearl Harbor untuk replenishment singkat.

Demikian juga dengan Yorktown, kapal induk ini menerima perintah untuk kembali ke Hawaii. Yorktown tiba pada 27 Mei dan diperbaiki dengan usaha keras sehingga kapal dapat kembali melaut dalam waktu yang singkat. Perbaikan yang singkat ini membuat Komandan AL Jepang mengira bahwa kapal ini bukanlah Yorktown yang dikiranya sudah tenggelam dalam pertempuran sebelumnya. Air groupnya, yang berpengalaman, ditambah dengan pesawat dan awak dari USS Saratoga (CV-3), kemudian menuju ke perairan Hawaii setelah modernisasinya di Pantai Barat. Siap untuk bertempur, Yorktown berlayar sebagai inti dari TF17 pada 30 Mei.

Timur laut Midway, Yorktown, di bawah komando Rear Admiral Fletcher, berlayar dengan TF16 yang berada di bawah komando Rear Admiral Raymond A. Spruance dan menjaga posisi 10 mil (16km) di utara Yorktown.

Pada 4 Juni pagi, Yorktown meluncurkan sebuah grup yang terdiri dari 10 pesawat Dauntlesses dari VB-5 mencari di setengah lingkaran bagian utara dengan radius 100 mil (160km), tetapi tidak menemukan apapun.

Sementara itu, PBY yang terbang dari Midway melihat kedatangan Jepang dan memberikan alarm bagi pasukan AS untuk mempertahankan atol kunci. Admiral Fletcher, dalam komando taktis, memerintahkan TF16 untuk mencari kapal induk musuh dan menyerangnya segera setelah ditemukan.

Grup pencari milik Yorktow kembali pada 08:30, mendara segera setelah enam pesawat CAP meninggalkan dek. Ketika pesawat Dauntless terakhir mendarat, dek menjadi sibuk dengan peluncuran grup serang kapal yang terdiri dari 17 Dauntless dari VB-3; 12 Devastator dari VT-3, dan enam Wildcats dari "Fighting Three." Enterprise dan Hornet,juga meluncurkan grup serangnya.

Pesawat torpedo dari tiga kapal induk berhasil menemukan pasukan Jepang, tetapi menghadapi bencana. Secara kolektif, 41 pesawat dari VT-8, VT-6 dan VT-3, hanya enam yang kembali ke Enterprise dan Yorktown, dan tidak ada satu[un yang kembali ke Hornet.

Hancurnya pesawat-pesawat torpedo biar bagaimanapun menghasilkan sesuatu. CAP Jepang yang berperan sebagai air cover kapal induk menjadi rusak dan mereka berkonsentrasi pada Devastator. Langit di atasnya menjadi terbuka untuk Gauntless dari Yorktown dan Enterprise.

Secara virtual tak terhalangi, bomber tukik milik Yorktown memukul kapal induk Jepang Sōryū, membuat tiga hantaman letal dengan bom 1.000 pound, membuatnya terbakar hebat. Sementara itu, pesawat-pesawat milik Enterprise, menyerang kapal induk Japang Akagi dan Kaga, mengubah mereka menjadi rongsokan dalam waktu singkat. Bom dari Dauntless mengenai semua kapal induk Jepang ketika mereka sedang melakukan pengisian bahan bakar dan persenjataan, dan kombinasi antara bom dan bahan bakar terbukti sangat eksplosif dan menghancurkan bagi kapal induk Jepang.

Tiga kapal induk Jepang sudah tenggelam. Akan tetapi, kapal induk keempat, Hiryū masih utuh. Terpisah dari sister shipnya, kapal induk ini meluncurkan serangan dengan 18 pesawat “Val” dan tak lama kemudian menemukan lokasi Yorktown.

Segera setelah pesawat Jepang terdeteksi radar pada sekitar 13:29, Yorktown tidak melanjutkan pengisian bahan bakar fighter CAPnya di dek dan dengan cepat dek dibersihkan untuk aksi pertahanan. Dive bombernya yang baru kembali dipindahkan dari lingkaran pendaratan dalam rangka membuka area untuk penembakan anti-pesawat. Pesawat Dauntless diperintahkan dengan cepat untuk membentuk CAP. Tangki gasolin tambahan berkapasitas 800 galon di pindahkan ke fantail kapal induk untuk menurangi resiko kebakaran. Awak mengeringkan garis bahan bakar dan menutupnya, dan mengamankan seluruh kompartemen.

Semua fighter Yorktown diperintahkan untuk mencegat pesawat Jepang yang datang. Pesawat-pesawat Wildcats menyerang dengan semangat, merusak serangan terorganisir yang dibentuk oleh pesawat-pesawat Jepang yang terdiri dari 18 “Val” dan 6 “Zero”. Pemimpin “Val”, Letnan Michio Kobayashi, kemungkinan tertembak jatuh oleh commanding officer VF3, Lieutenant Commander John S. Thach. Lieutenant William W. Barnes melakukan penyerangan pertama yang kemungkinan menjatuhkan bomber utama dan merusakkan dua lainnya. Walaupun serangan intensif dan manuver yang evasif, tiga “Vals” berhasil menghantam Yorktown. Dua di antaranya berhasil ditembak jatuh setelah menjatuhkan bom mereka, dan yang ketiga kehilangan kendali setelah bom dilepaskan. Pesawat ini jatuh dan menghantam elevator no. 2 di sisi kanan kapal induk, meledak saat kontak dan membuat lubang dengan luas 3 meter persegi di dek penerbangan. Serpihan dari bom yang meledak menghancurkan awak dari dua meriam 28mm yang terpasang di bagian belakan island dan di dek penerbangan. Fragmen-fragmen bom menembus dek penerbangan dan mengenai tiga pesawat di dek hangar, mengakibatkan kebakaran. Salah satu pesawat, Dauntless, berbahan bakar penuh dan membawa bom 1000 pon. Opsir dek hangar Lt. A. C. Emerson mengaktifkan sistem sprinkler dan dengan cepat memadamkan api untuk mencegah kebakaran serius.

Bom kedua menghantam sisi kiri kapal, menembus dek penerbangan dan meledak di bagian bawah cerobong asap. Bom ini memecahkan serapan untuk tiga pendidih, dan memadamkan dua pendidih, dan memadamkan api di lima pendidih. Asap dan gas mulai mengisi ruang-api enam pendidih. Awak di pendidih no. 1 tetap berada di pos-nya walaupun dalam kondisi bahaya untuk menjaga api tetap menyala dan menjaga tekanan uap yang cukup agar sistem uap tambahan tetap menyala.

Bom ketiga menghantam kapal induk di sisi kanan, menembus sisi dari elevator no. 1 dan meledak di dek keempat, memicu kebakaran di ruang penyimpanan kain, berdekatan dengan penyimpanan bahan bakar dan magasin bagian depan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan menyemprotkan karbon dioksida ke sistem gasolin untuk mencegah terpatiknya gasolin.

Ketika kapal pulih dari kerusakan yang disebabkan oleh serangan bomber-tukik, kecepatannya turun menjadi enam knot; dan kemudian pada 14:40, sekitar 20 menit setelah hantaman bom yang mematikan sebagian besar pendidih, Yorktown melambat dan berhenti.

Pada sekitar 15:40, Yorktown bersiap untuk bergerak lagi, dan pada 15:50, awak ruang mesin melaporkan bahwa Yorktown sudah siap berlayar dengan kecepatan 20 knot atau lebih. Kapal masih belum keluar dari pertarungan.

Secara bersamaan, dengan terkendalinya kebakaran cukup untuk menjamin dilanjutkannya pengisian bahan bakar, Yorktown mulai mengisi bahan bakar fighter di dek. Tak lama kemudian, radar menangkap air group jepang yang datang pada jarak 33 mil (53 km). Ketika kapal bersiap untuk bertempur –lagi-lagi mematikan sistem gasolin dan menghentikan proses pengisian bahan bakar bagi pesawatnya di dek penerbangan- kapal induk ini meluncurkan enam fighter sebagai CAP untuk mencegat penyerang. Dari 10 fighter yang ada di atas dek, delapan di antaranya telah memiliki 23 galon bahan bakar di tangki mereka. Mereka diluncurkan ketika sepasang fighter CAP bergerak untuk mencegat pesawat Jepang.

Pada 16:00, bermanuver, Yorkton mencapai kecepatan 20 konts (37 km/jam). Fighter-fighter yang diluncurkannya melakukan kontak dengan musuh. Yorktown menerima laporan bahwa pesawat Jepang yang datang adalah "Kate." Wildcats setidaknya menembak jatuh tiga pesawat, tetapi sisanya mendekati Yorktown ketika kapal-kapal kawalnya memberondongi dengan senapan anti-pesawat berat.

Yorktown bermanuver secara radikal, menghindar dari setidaknya dua torpedo sebelum dua torpedo menghantamnya pada 16:20. Kapal induk rusak parah dan kehilangan tenaga, terhenti di air dengan baling-baling yang macet dan semakin miring ke kiri. 


Foto: www.history.navy.mil

Ketika kemiringan kapal terus berlanjut, damage control officer Commander C. E. Aldrich, melaporkan dari ruang utama bahwa tanpa tenaga, mengontrol kebanjiran terlihat mustahil. Engineering officer, Lt. Cdr. J. F. Delaney, tak lama kemudian melaporkan bahwa api di semua pendidih mati, semua tenaga hilang dan mustahil untuk menanggulangi kemiringan. Buckmaster memerintahkan Aldrich, Delaney, dan orang-orangnya untuk menyelamatkan diri ke dek dan memakai jaket penyelamat.

Kemiringan terus meningkat, dan ketika mencapai 26 derajat, Buckmaster dan Aldrich setuju bahwa kapal sebentar lagi akan terbalik. Dalam rangka menyelamatkan awak sebanyak-banyaknya, kapten memerintahkan seluruh awak untuk meninggalkan kapal.

Selama beberapa menit kemudian, awak menurunkan awak yang terluka ke rakit penyelamat dan mengirimnya ke destroyer dan cruiser terdekat. Setelah evakuasi seluruh awak yang terluka executive officer, Commander I. D. Wiltsie, meninggalkan kapal. Sementara itu Buckmaster berkeliling kapal untuk terakhir kalinya, memeriksa apakah ada awak yang masih tertinggal. Setelah tidak menemukan personel yang hidup, Buckmaster meninggalkan kapal ketika air telah sejajar dengan sisi kiri dek hangar.


Upaya Penyelamatan dan Tenggelamnya Kapal

Setelah diselamatkan oleh destroyer USS Hammann (DD-412), Buckmaster berpindah ke USS Astoria (CA-34) dan melaporkan diri ke Rear Admiral Fletcher, yang memindah flag shipnya ke heavy cruiser setelah serangan bomber-tukik pertama. Dua orang tersebut setuju untuk menyelamatkan awak sebanyak mungkin dan berusaha menyelamatkan kapal. Ketika usaha untuk menyelamatkan Yorktown dilaksanakan, pesawatnya masih bertempur, bergabung dengan pesawat dari USS Enterprise (CV-6) untuk menyerang kapal induk Jepang terakhir Hiryū. Menerima empat hantaman langsung, kapal induk ini segera ditinggalkan awaknya.

Yorktown masih mengapung sepanjang malam. Dua awak masih tertinggal dan hidup di atasnya. Salah satunya menarik perhatian dengan menembakkan senapan mesin yang didengar oleh destroyer Hughes. Kapal pengawal menjemput awak tersebut, akan tetapi salah satunya telah tewas.

Sementara itu, Buckmaster telah memilih 29 opsir dan 141 orang untuk kembali ke Yorktown dalam rangka menyelamatkannya. Lima destroyer membentuk perlindungan anti-kapal selam. Kebakaran masih terus berlanjut pada pagi harinya, 6 Juni. USS Vireo (AT-144), muncul dari Pearl and Hermes Reef, dan segera menarik Yorktown walaupun progressnya sangat lambat.

Awak perbaikan Yorktown naik ke kapal dengan tindakan terencana yang akan dilaksanakan oleh tiap departemen –kontrol kerusakan, gunnery air engineering, navigasi, komunikasi, suplay dan medis. Untuk membantu pengerjaan, Lt. Cdr. Arnold E. True membawa kapalnya, USS Hammann (DD-412), ke sisi kanan belakang, menyediakan pompa dan tenaga listrik.

Pada pertengahan siang, terlihat bahwa perjudian untuk menyelamatkan kapal terbayar. Proses untuk mengurangi berat bagiana atas berlangsung baik. Pompa yang ditenagai dari listrik Hammann, memompa air keluar dari ruang teknisi. Usaha ini mengurangi kemiringan kapal sebanyak dua derajat.

Tanpa diketahui oleh enam destroyer yang berada didekat Yorktown, kapal selam Jepang I-168 telah mencapai posisi tembak. Luar biasanya -tetapi mungkin cukup dipahami karena puing-puing dan reruntuhan di air yang berserakan di sekitarnya- tidak satupun destroyer yang mengetahui adanya kapal selam yang mendekat. Pada 15:36, pengintai melihat adanya empat torpedo yang mendekati kapal di sisi kanan beam.

Hammann menembakkan senapan 20m-nya sebagai usaha untuk meledakkan torpedo di air. Satu torpedo menghantam langsung bagian tengah Hammann. Destroyer Hammann tenggelam dengan cepat.

Dua torpedo menghantam Yorktown tepat di bawah lipatan lambung kapal setelah akhir struktur island. Torpedo keempat meleset.

Sekitar satu menit setelah tenggelammnya Hammann, terjadi ledakan di bawah air laut yang kemungkinan karena bom laut. Ledakan membunuh banyak awak Hamman dan beberapa Yorktown yang terlempar ke air. Guncangan menghantam hull kapal induk yang sebelumnya memang rusak dan menyebabkan gincangan hebat pada generator tambahan Yorktown, menyebabkan kekacauan di dek, menghancurkan paku keling di kaki-kaki tiang kapal bagian depan, melempar awak ke segala arah yang menyebabkan patah tulang dan luka-luka ringan.

Semua destroyer segera melakukan pencarian kapal selam (yang sudah melarikan diri) dan berusaha melakukan penyelamatan awak dari Hammann dan Yorktown. Kapten Buckmaster memutuskan untuk menunda upaya penyelamatan kapal induk hingga hari selanjutnya.

Vireo menghentikan penarikan kapal dan kembali untuk menyelamatkan awak yang masih hidup Selanjutnya, ketika berada di atas kapal penarik, Buckmaster melakukan upacara pemakaman, dua opsir dan awak-awak dari Hammann dimakamkan di lautan.

Upaya penyelamatan kapal untuk kedua kalinya tidak pernah dilakukan. Selama 6 Juni malam hingga pagi harinya, 7 JUni, Yorktown masih mengapung. Pada 05:30, awak di dekat kapal melaporkan bahwa kapal induk miring dengan cepat ke kiri. Pada 07:01, kapal terbalik ke sisi kiri dan tenggelam dalam perairan sedalam 5,500 m.



Penghormatan dan Penemuan Kembali 

Yorktown (CV-5) mendapatkan tiga battle stars untuk tugasnya selama PD II, dua di antaranya untuk bagian pentingnya dalam memainkan perannya untuk menghentikan ekspansi Jepang di Laut Coral dan Midway.


Bangkai Kapal Induk Yorktown (CV-5) (Foto:http://geopolicraticus.files.wordpress.com)

Pada 19 Mei 1998, bangkai kapal induk Yorktown ditemukan dan difoto oseanografer terkenal Dr. Robert D. Ballard, penemu bangkai kapal RMS Titanic dan Kapal Perang Jerman Bismarck. Sisa-sisa Yorktown, yang berada 3 mil (5 km) di bawah permukaan, secara mengejutkan masih utuh setelah berada di dasar laut sejak 1942; banyak cat dan peralatan yang masih dapat terihat.



Spesifikasi USS Yorktown (CV-5) 

Skema Yorktown (CV-5) (gambar: www.the-blueprints.com)

Dimensi:
Panjang: 770 kaki (234.70m)
Beam: 83.2 kaki (25.36m)
Draught: 25.11 kaki (7.65m)

Performa:
Kecepatan Permukaan: 32.5knots (37mpj)
Jarak: 14,400mil (23,175km)

Persenjataan:
1937:
8 x kanon dwiguna 5-inci /38 kaliber terpasang tunggal.
4 x kanon anti-pesawat 1.1-inci /75 kaliber terpasang quadruple.
24 x senapan mesin anti pesawat .50
1942:
8 x kanon dwiguna 5-inci /38 kaliber terpasang tunggal.
4 x kanon anti-pesawat 1.1-inci /75 kaliber terpasang quadruple.
30 x kanon anti-pesawat 20mm

Struktur:
Awak: 2,217
Bobot Mati: 20,000ton

Mesin:
Mesin: 9 x pendidih Babcock & Wilcox dengan 4 x turbin bergerigi Parsons menghasilkan 120,000 shaft horsepower untuk 4 x screws.

Air Arm:
90 pesawat dari berbagai tipe yang terdiri dari fighter, bomber tukik dan bomber torpedo.



Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar